Tampilkan postingan dengan label cermin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cermin. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 April 2011

Memajukan Diri

Suasana di kantor memang tidak selalu asik. Pola pikir atasan atau perusahaan gak selalu sejalan dengan kita. Seringkali apa yang menurut kita bagus ternyata tidak, menurut atasan atau perusahaan. Banyak pegawai lebih memilih diam dan menurut. Orang-orang ini tidak menganggapnya sebuah masalah. Mereka puas dengan ketidakpuasan…...

Tapi bagaimana dengan mereka yang memiliki passion tinggi?
Bagaimana dengan mereka yang hanya ingin memberikan yang terbaik?

Untuk orang-orang seperti ini, selalu mengalah bukan pilihan. Mengundurkan diri adalah pilihan!! Bila kamu bagus menurut perusahaan, mereka akan menolak pengunduran dirimu. Di titik ini, kamu memegang permainan. Mereka akan lebih mendengarkanmu.

Bila ternyata perusahaan menerima pengunduran dirimu ? ? Berarti kamu memang berada di tempat yang salah, dan resign adalah solusi terbaik.

Untuk melakukan semua ini gak gampang dan butuh nyali…... Dan sejarah membuktikan, dunia dikendalikan oleh orang-orang yang bernyali...

Sabtu, 06 Juni 2009

Chiken ala Carte

mungkin ada yg sudah pernah melihat klip berikut, tapi seandainya belum kalian perlu melihatnya. film pendek besutan Ferdinand Dimadura dari Filipina ini sangat menyentuh. mengisahkan tentang kontradiksi 2 kehidupan manusia. yang satu tidak kaya sekali, tapi yang jelas berkecukupan dan yang lainnya serba kekurangan sampai-sampai harus memilih jalan yang bagi kita bisa jadi tidak pernah terbayangkan supaya bisa makan.



MIRIS, ya melihat bagaimana mereka berebut makanan sisa. mual? berarti masih normal karena mereka nggak pantas makan seperti anjing atau kucing jalanan yang mengais-ngais makanan dari bak sampah, tapi lebih nggak pantas lagi yang sudah membeli makan lalu menyia-nyiakannya tanpa rasa bersalah. apakah karena sudah membayar maka kita berhak membuang-buang makanan begitu saja?



Rabu, 27 Mei 2009

Di sana Sehat, Di Sini Maksiat

Apakah anda terbiasa bangun tengah malam? Apa yang biasanya anda lakukan?

Sebuah pertanyaan dengan jawaban yang berbeda-beda. Mungkin anda termasuk orang yang pernah atau terbiasa bangun tengah malam saat tidur sedang lelap-lelapnya. Tapi apa yang kemudian dilakukan, tentulah berbeda. Ada yang terbangun dari tidur lelapnya karena tuntutan kebutuhan hidupnya (para pedagang sayur biasanya akan bangun tengah malam untuk segera berbelanja ke pasar), karena kebutuhan biologisnya (buang air kecil misalnya), dan ada juga yang terbangun karena kebutuhan ruhaninya (melakukan sholat malam). Mereka yang terbangun karena kebutuhan biologisnya akan segera kembali terlelap setelah hasratnya terpenuhi. Tapi mereka yang terbangun karena kebutuhan batinnya, tidak akan segera terlelap sebelum ‘puas’ bersujud dan bermunajat kepada Allah, karena saat-saat itulah saat yang paling istimewa untuk ‘berdialog’ dengan sang Maha Pencipta.

Malam atau dini hari nanti, sepertinya bakal banyak orang-orang yang bangun tengah malam atau sengaja tidak tidur sejak sore harinya. Apa yang akan mereka lakukan?

Sebagian dari mereka tentunya akan melakukan kebiasaan tengah malamnya, mengambil wudlu, sholat beberapa rokaat, bersujud, berdoa dengan linangan air mata. Sebagian lainnya, mereka rela bangun tengah malam nanti karena harus buru-buru ke pasar induk kalau tidak ingin mendapatkan sayuran sisa pilhan pedagang lain. Dan sebagian lainnya ingin menyaksikan secara langsung pertandingan final liga champions. Hanya untuk itu? Bisa iya bisa juga tidak!

Sebagian mungkin memang bangun tengah malam semata-mata hanya ingin menyaksikan pertandingan itu, artinya mereka akan bangun sesaat sebelum pertandingan mulai dan akan kembali tidur setelah pertandingan selesai. Sebagian mungkin akan memanfaatkan moment bangun tengah malam nanti, untuk ‘sekali-kali’ sholat malam, mencoba ‘berdialog’ kepada Allah sebelum pertandingan mulai, waktu jeda pertandingan atau setelah pertandingan selesai, kalau masih kuat menahan kantuk. Untuk yang seperti ini, masih dibilang mending ketimbang mereka yang biasanya tak pernah bangun malam (ujug-ujug untuk sholat malam), tiba-tiba nanti malam mereka merasa wajib bangun karena sekedar mau melihat pertandingan sepak bola dengan mata kepala sendiri secara langsung, menunggu dengan harap-harap cemas apakah tim yang mereka jagokan menang atau kalah. Kenapa harus cemas, apakah yang akan bertanding nanti tim dari Indonesia? Ya, bukan lah! Mereka sebenernya cemas, karena jika tim jagoannya kalah, secara otomatis mereka juga akan kalah taruhan. Astaghfirulloh….! Bangun tengah malam, hanya untuk melihat pertandingan sepak bola dan berjudi?! Sungguh sangat-sangat sia-sia bahkan celaka! Kalau mereka yang main jadi sehat, kenapa yang nonton jadi maksiat?

Jadi, apakah anda akan bangun tengah malam nanti? Apa yang akan anda lakukan, jika terbangun nanti?

Selasa, 26 Mei 2009

Neoliberalisme

Tiba-tiba saja mencuat menjadi wacana hangat di tengah-tengah masyarakat. Pemicunya adalah munculnya nama Boediono sebagai calon wakil presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilihan presiden yang akan datang. Menurut para penentang mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut, Boediono seorang ekonom yang menganut paham ekonomi neoliberal, sebab itu ia sangat berbahaya bagi masa depan perekonomian Indonesia.

Tulisan ini tidak bermaksud mengupas Boediono atau paham ekonomi yang dianutnya. Tujuan tulisan ini adalah untuk menguraikan pengertian, asal mula, dan perkembangan neoliberalisme secara singkat. Saya berharap, dengan memahami neoliberalisme secara benar, silang pendapat yang berkaitan dengan paham ekonomi ini dapat dihindarkan dari debat kusir. Sebaliknya, para ekonom yang jelas-jelas mengimani neoliberalisme, tidak secara mentah-mentah pula mengelak bahwa dirinya bukan seorang neoliberalis. Sesuai dengan namanya, neoliberalisme adalah bentuk baru dari paham ekonomi pasar liberal. Sebagai salah satu varian dari kapitalisme yang terdiri dari merkantilisme, liberalisme, keynesianisme, neoliberalisme dan neokeynesianisme, neoliberalisme adalah sebuah upaya untuk mengoreksi kelemahan yang terdapat dalam liberalisme.

Sebagaimana diketahui, dalam paham ekonomi pasar liberal, pasar diyakini memiliki kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. Karena pasar dapat mengurus dirinya sendiri, maka campur tangan negara dalam mengurus perekonomian tidak diperlukan sama sekali. Tetapi setelah perekonomian dunia terjerumus ke dalam depresi besar pada tahun 1930-an, kepercayaan terhadap paham ekonomi pasar liberal merosot secara drastis. Pasar ternyata tidak hanya tidak mampu mengurus dirinya sendiri, tetapi dapat menjadi sumber malapetaka bagi kemanusiaan. Depresi besar 1930-an tidak hanya ditandai oleh terjadinya kebangkrutan dan pengangguran massal, tetapi bermuara pada terjadinya Perang Dunia II. Menyadari kelemahan ekonomi pasar liberal tersebut, pada September 1932, sejumlah ekonom Jerman yang dimotori oleh Rustow dan Eucken mengusulkan dilakukannya perbaikan terhadap paham ekonomi pasar, yaitu dengan memperkuat peranan negara sebagai pembuat peraturan. Dalam perkembangannya, gagasan Rostow dan Eucken diboyong ke Chicago dan dikembangkan lebih lanjut oleh Ropke dan Simon.

Sebagaimana dikemas dalam paket kebijakan ekonomi ordoliberalisme, inti kebijakan ekonomi pasar neoliberal adalah sebagai berikut: (1) tujuan utama ekonomi neoliberal adalah pengembangan kebebasan individu untuk bersaing secara bebas-sempurna di pasar; (2) kepemilikan pribadi terhadap faktor-faktor produksi diakui dan (3) pembentukan harga pasar bukanlah sesuatu yang alami, melainkan hasil dari penertiban pasar yang dilakukan oleh negara melalui penerbitan undang-undang (Giersch, 1961). Tetapi dalam konferensi moneter dan keuangan internasional yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Bretton Woods, Amerika Serikat (AS) pada 1944, yang diselenggarakan untuk mencari solusi terhadap kerentanan perekonomian dunia, konsep yang ditawarkan oleh para ekonom neoliberal tersebut tersisih oleh konsep negara kesejahteraan yang digagas oleh John Maynard Keynes.

Sebagaimana diketahui, dalam konsep negara kesejahteraan atau keynesianisme, peranan negara dalam perekonomian tidak dibatasi hanya sebagai pembuat peraturan, tetapi diperluas sehingga meliputi pula kewenangan untuk melakukan intervensi fiskal dan moneter, khususnya untuk menggerakkan sektor riil, menciptakan lapangan kerja dan menjamin stabilitas moneter. Terkait dengan penciptaan lapangan kerja, Keynes bahkan dengan tegas mengatakan: "Selama masih ada pengangguran, selama itu pula campur tangan negara dalam perekonomian tetap dibenarkan”. Namun kedigdayaan keynesianisme tidak bertahan lama. Pada awal 1970-an, menyusul terpilihnya Reagen sebagai presiden AS dan Tatcher sebagai Perdana Menteri Inggris, neoliberalisme secara mengejutkan menemukan momentum untuk diterapkan secara luas. Di Amerika hal itu ditandai dengan dilakukannya pengurangan subsidi kesehatan secara besar-besaran, sedang di Inggris ditandai dengan dilakukannya privatisasi BUMN secara massal.

Selanjutnya, terkait dengan negara-negara sedang berkembang, penerapan neoliberalisme menemukan momentumnya pada akhir 1980-an. Menyusul terjadinya krisis moneter secara luas di negara-negara Amerika Latin. Departemen Keuangan AS bekerja sama dengan Dana Moneter Internasional (IMF), merumuskan sebuah paket kebijakan ekonomi neoliberal yang dikenal sebagai paket kebijakan Konsensus Washington. Inti paket kebijakan Konsensus Washington yang menjadi menu dasar program penyesuaian struktural IMF tersebut adalah sebagai berikut: (1) pelaksanaan kebijakan anggaran ketat, termasuk kebijakan penghapusan subsidi; (2) liberalisasi sektor keuangan; (3) liberalisasi perdagangan; dan (4) pelaksanaan rivatisasi BUMN.

Di Indonesia, pelaksanaan agenda-agenda ekonomi neoliberal secara masif berlangsung setelah perekonomian Indonesia dilanda krisis moneter pada 1997/1998 lalu. Secara terinci hal itu dapat disimak dalam berbagai nota kesepahaman yang ditandatatangani pemerintah bersama IMF. Setelah berakhirnya keterlibatan langsung IMF pada 2006 lalu, pelaksanaan agenda-agenda tersebut selanjutnya dikawal oleh Bank Dunia, ADB dan USAID.

Menyimak uraian tersebut, secara singkat dapat disimpulkan, sebagai bentuk baru liberalisme, neoliberalisme pada dasarnya tetap sangat memuliakan mekanisme pasar. Campur tangan negara, walau pun diakui diperlukan, harus dibatasi sebagai pembuat peraturan dan sebagai pengaman bekerjanya mekanisme pasar. Karena ilmu ekonomi yang diajarkan pada hampir semua fakultas ekonomi di Indonesia dibangun di atas kerangka kapitalisme, maka sesungguhnya sulit dielakkan bila 99,9 persen ekonom Indonesia memiliki kecenderungan untuk menjadi penganut neoliberalisme.


Senin, 25 Mei 2009

Daftar Lagu Daerah

Ini murni karena alasan Praqmatis-eTis. Habis KemariN anak tetaNGGA dapat Tugas Dari Guru SD-nya, anak itu membuat aku kelimpungan karena nggak bisa ngejawab. Mungkin ada yang punya anak SD, atau adik Sd atau adik ceweknya SD. smoga aja ada gunanya!!!! Ikuti Posting yang Lain. LuxsMan, yang goblok!!

NAD Bungong Jeumpa, Piso Surit.
TAPANULI Butet, Madekdek Magambiri, Mariam Tomong, Sinaggar Tullo, Sing Sing So, Dago Inang Sarge.
SUMATERA TIMUR Injit-Injit Semut, Selendang Mayang,Timang-timang Anakku Sayang.
SUMATERA BARAT Paku Gelang, Ayam Den Lapeh, Kampung nan Jauh di Mato, Mak Inang, Kambanglah Bungo, Rang Talu.
SUMATERA SELATAN Tari Tanggai, Dek Sangke.
MADURA/JAWA TIMUR Tonduk Majeng, Kerraban Sape.
JAWA TENGAH Gundhul Pacul, Gambang Suling, Lir Ilir, Suwe Ora Jamu, Te Kate Dipanah.
JAWA BARAT Bubuy Bulan, Manuk Dadali,Tokecang, Pileuleuyan,Cing Cangkeling.
JAKARTA Kicir-kicir, Surilang, Jali-jali, Keroncong Kemayoran, Ronggeng.
SULAWESI UTARA O Ina Ni Keke, Si Patokaan, Tahanusangkara.
SULAWESI TENGAH Tondok Kadadingku.
SULAWESI SELATAN Pakarena, Ma Rencong.
KALIMANTAN SELATAN Ampar-Ampar Pisang, Paris Barantai, Saputangan Bapuncu Ampat,
KALIMANTAN BARAT Cik Cik Periok.
KALIMANTAN TENGAH Tumpi Wayu, Kalayar, Naluya.
BALI Janger, Dewa Ayu, Macepet Cepetan.
MALUKU Ayo Mama, Burung Tantina, Buka Pintu, Naik Naik ke Puncak Gunung, Huhatee, Saule, O Ulate, Lembe-lembe, Sarinande, Waktu Hujan Sore-sore, Tanase, Ole Sioh.
PAPUA Yamko Rambe Yamko, Apuse.



Rabu, 20 Mei 2009

Susahnya Mendapatkan Pertolongan

Apa yang anda lakukan setiap hari Senin – Rabu, pukul 16.30 – 17.00 WIB? Jawabannya pasti berbeda-beda. Mungkin masih ada yang di kantor, di pasar, di pusat perbelanjaan, di ruang kuliah, atau sedang terjebak kemacetan di jalan. Tapi kalau saya bisa dipastikan saat itu sedang ‘duduk manis’ di depan tv bersama keluarga. Bukan untuk melihat berita apalagi acara gossip. Jam-jam itu menjadi favorit kami untuk nonton tv karena ada satu acara yang mampu membuat hati ini tersentuh dan air mata ini meleleh. Sedih memang, namun begitu kami menyenangi acara ini, karena pesan yang ingin disampaikan sungguh menggugah perasaan dan kesadaran. Acara tv tersebut adalah ‘Minta Tolong’ yang ditayangkan di salah satu tv nasional kita.

Sesuai dengan nama acaranya, reality show ini memang menceritakan bagaimana susahnya mencari pertolongan di jaman sekarang. Pertolongan yang tulus ikhlas menjadi mahal di jaman yang cenderung memikirkan diri sendiri seperti sekarang ini. Meski sebuah acara televisi ( yang tentunya sudah di poles dan dikemas agar lebih menarik ) tapi acara ini memang tidak mengada-ada dan tidak jauh berbeda dengan kenyataan di masyarakat yang sebenarnya. Apa yang ditayangkan dalam acara ini memang ingin menyadarkan kita, membuka mata dan hati kita bahwa ternyata masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam kesusahan. Dan seolah tamparan bagi kita, yang nyatanya masih kurang peduli dengan penderitaan orang lain, padahal mereka ada di sekitar kita, dan kita ada diantara mereka.

Dalam acara ini, digambarkan seseorang harus berjalan berjam-jam, dan menemui puluhan orang untuk bisa mendapatkan pertolongan yang tulus ikhlas. Kepada orang yang mau memberikan pertolongan dengan tulus ikhlas tim acara ini nantinya akan memberikan sejumlah uang sebagai hadiah meskipun hal itu tak mereka harapkan. Tapi memang sudah selayaknya, mereka yang sudah mau meringankan beban orang lain, mendapatkan imbalan tanpa mengurangi sedikitpun nilai ketulusan dan keikhlasan.

Tim acara ini memang cukup kreatif, dalam setiap penayangan alasan yang ditampilkan selalu berbeda. Terkadang digambarkan seseorang menjual barang-barang bekas atau barang remeh dengan harga yang sekilas kurang masuk akal. Misalnya saja pernah seorang ibu muda menjual botol-botol bekas dengan harga Rp 26.000 untuk membeli susu formula bagi balitanya. Seorang ibu menjual baju bekas untuk membeli beras, atau seorang anak yang menjual abu untuk membeli buku, menjual radio rusak untuk membeli obat, menjual ubi kayu ( singkong ) untuk membeli sepatu. Tidak selalu dengan cara ‘pura-pura’ menjual sesuatu, terkadang juga digambarkan seseorang minta tolong untuk dibawakan barang ke satu tempat, minta diantarkan kepada keluarganya, atau dicarikan anggota keluarganya yang terpisah.

Lalu mudahkah mereka mendapatkan pertolongan yang mereka butuhkan? Tidak! Mereka harus berjalan berjam-jam, menemui puluhan orang yang terkadang bukan hanya cuek tapi malah marah-marah dan mengusirnya dengan kasar. Bukan hanya satu dua orang yang sama sekali tidak merespon permintaan tolong yang seringnya dilakukan oleh anak kecil atau seorang nenek yang renta. Tapi ini masih lebih baik, karena ternyata tak sedikit yang merasa risih dengan kehadiran mereka, sehingga kemudian mereka di usir dan terkadang di caci maki.

Jika ada sebagian yang cuek, risih dan marah denan kehadiran mereka yang minta tolong, ada juga yang dengan semangat langsung memberikan pertolongan. Tapi untuk hal yang seperti ini, tim ini rupanya cukup jeli, karena kenyataannya mereka yang dengan ‘gampangnya’ memberikan pertolongan adalah mereka yang sudah mengetahui acara ini dan keberadaan tim di lokasi sekitar. Hal ini mereka lakukan bukan lantaran belas kasihan, tapi karena hadiah yang akan mereka dapatkan. Gerak-gerik mereka yang ‘seolah menolong’ memang terlihat jelas. Yang lucu justru, ada yang awalnya menolak menolong, tiba-tiba memaksa untuk menolong setelah menyadari keberadaan tim acara ini. Bukan satu dua yang awalnya cuek, kemudian berbalik ‘merengek-rengek’ untuk bisa menolong.

Sebelum acara berakhir, setelah menemui puluhan orang yang menolak memberikan pertolongan, akhirnya ada juga orang yang mau menolong dengan tulus ikhlas. Dan yang mencengangkan adalah rata-rata mereka yang mau memberikan pertolongan adalah mereka yang juga sebenarnya membutuhkan pertolongan. Mereka kebanyakan juga berasal dari golongan yang kurang mampu.

Mereka yang mau membeli barang-barang ‘tak berharga’ itu adalah mereka yang juga kekurangan uang. Mereka yang mau membawakan barang dan mengantar adalah mereka yang juga hidupnya serba seadanya. Mereka melakukan semua itu bukan karena mereka membutuhkan barang-barang itu. Mereka yang mengantar, membawakan barang bukan karena mereka mengenalnya. Tapi mereka melakukan semua itu karena tulus ikhlas yang dilandaskan oleh perasaan senasib. Hati mereka tersentuh dengan kesusahan orang lain yang mungkin pernah mereka alami. Ini berbeda dengan mereka yang hidup serba kecukupan, dimana terkadang ( tidak semua ) sama sekali tidak menerima sinyal atas penderitaan orang lain meskipun sudah dipaparkan didepan mata, namun seakan-akan mata mereka buta.

Secara keseluruhan acara ini banyak memberikan pesan kepada kita yang menontonnya. Tinggal sejauh mana kita menerima pesan yang coba disampaikan melalui sebuah tontonan ini. Dan, bisa saja ketika kita menganggap bahwa itu semua adalah sekedar acara tv, dan terjadi jauh diluar sana, sebenarnya di sekitar kita, dekat dengan kita banyak sekali orang-orang yang membutuhkan pertolongan tapi tak pernah kita perhatikan. Ingat, jika hari ini mereka yang minta tolong, maka dilain waktu, di lain kesempatan dan di lain hal, bisa saja kita membutuhkan mereka, kita meminta tolong kepada mereka.

Mari, buka mata kita, buka hati kita. Lihatlah mereka di sekitar kita, apapun bentuknya, sudah seharusnya kita membantu mereka semampu kita, yang terpenting dilandasi keikhlasan untuk meringankan beban mereka, bukan untuk mendapatkan sebuah imbalan.