Selasa, 11 November 2008

Heroes Day.........

Yesterday we celebrate our heroes day, that makes me think its really so lucky for those whose known as heroes and thats makes me so jeallous, back there to become a hero there was nothing to do much, as long as we were willing to die for our country, took a gun or any weapon and go against the dutch or japan we can consider our self to be a hero. back to present, now i'm just a kind of a looser who stuck in front of my screen, just thinking how to become hero for nowdays, i have a courage and i'm willing to die for my country too. So guys please is there some one who has a little idea or some inspiration for me... thanks!!!

OR MAYBE I HAVE TO BECOME ONE OF THEM:

HeroEs2




Senin, 27 Oktober 2008

Seandainya Indonesia Diserang

A. Kemerdekaan dan Problematika Kebangsaan

Kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia adalah merupakan perjuangan seluruh rakyat Indonesia. Selama bertahun-tahun bangsa Indonesia dijajah, rakyat Indonesia sangat mendambakan kemerdekaan agar terlepas dari jeratan penderitaan akibat kebiadaban penjajah. Rakyat Indonesia berjuang tanpa lelah mengerahkan segala upaya untuk sebuah cita-cita bersama yaitu mewujudkan kemerdekaan di bumi persada Indonesia. Dengan demikian, kemerdekaan merupakan suatu proses perjuangan. Sebuah perjuangan yang berlandaskan akan semangat persatuan dan dijiwai oleh cita-cita luhur yang tertanam di hati sanubari rakyat Indonesia.

Kini, rakyat Indonesia bisa menikmati buah dari kemerdekaan yang telah diproklamirkan oleh para pejuang bangsa Indonesia 1945 silam. Dengan proklamasi itu, bangsa Indonesia yang selama berabad-abad dijajah telah berhasil melepaskan diri dari segala belenggu penjajahan. 63 tahun sudah Indonesia telah merdeka. Merdeka dalam arti terlepas dari penjajahan fisik yang telah lama mencabik-cabik bumi pertiwi ini.

Lalu pertanyaan kemudian adalah apakah setelah bangsa Indonesia berhasil meraih kemerdekaan, pertanda berakhirkah perjuangan kita sebagai rakyat Indonesia? Tentu tidak, perjuangan kita belumlah berakhir. Perjuangan kita justru lebih berat lagi dibandingkan dengan perjuangan yang dilakukan para pejuang bangsa dalam rangka merebut kemerdekaan. Setelah bangsa Indonesia tercinta ini mencapai kemerdekaannya, kita beralih kepada perjuangan untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Dengan demikian, kehidupan kita akan lebih berarti jika kita berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan tersebut.

Cara untuk mengisi kemerdekaan adalah dengan usaha pembangunan disegala bidang kehidupan, turut serta secara aktif dalam pertahanan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari sini jelas bahwa perjuangan untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan tidak hanya dibebankan untuk kalangan militer saja, tetapi seluruh rakyat Indonesia mempunyai tanggung jawab yang sama untuk mempertahankan kemerdekaan ini dari segala bentuk serangan dan penjajahan.

Meskipun sudah 63 tahun kita merdeka, tetapi bangsa ini masih dihadapkan pada berbagai problem kebangsaan baik yang datang dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal). Jika tidak disikapi dengan bijak oleh setiap komponen bangsa, maka problem-problem ini akan semakin mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Adapun problem yang datang dari dalam dapat dikelompokan menjadi tiga yaitu :

1. Mereduksinya semangat persatuan dan kesatuan

Kesadaran akan persatuan dan kesatuan semakin memudar di tengah rakyat Indonesia. Banyaknya perbedaan yang ada semakin memperuncing gesekan perpecahan yang berimbas kepada saling memusuhi antar kelompok satu dengan lainnya. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika nampaknya hanya menjadi slogan tak bertuan yang menjadi angin lalu bagi sebagian rakyat Indonesia. Jika kondisi ini tidak bisa diperbaiki dalam bingkai memperteguh kembali semangat persatuan dan kesatuan tanpa memandang perbedaan-perbedaan yang ada, maka musuh-musuh bangsa Indonesia akan semakin mudah meyusup dan mencabik-cabik NKRI ini.

2. Munculnya berbagai gerakan separatis

Dari awal kemerdekaan diproklamirkan, bangsa Indonesia ini sudah dihadapkan pada problem adanya gerakan-gerakan separatis yang mengancam keutuhan NKRI. Lihat saja misalnya pemberontakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), Republik Maluku Selatan (RMS), dan lain sebagainya. Saat ini, kita dapat melihat banyaknya gerakan separatis diantaranya Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Papua Merdeka, dan lain-lain. Gerakan semacam ini tentunya menjadi cikal bakal keruntuhan NKRI dari dalam. Munculnya gerakan-gerakan separatis ini umumnya didasari atas ketidakpuasan atas kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat terkait dengan pendapatan daerah, otonomi daerah, dan lain sebagainya.

3. Problem sosial dan bencana alam

Indonesia yang tergolong negeri subur dan kaya akan sumber daya alam harus rela mengelus dada melihat kondisi rakyatnya yang masih dijerat oleh problem kemiskinan. Ironis memang, hidup miskin di tengah negeri yang kaya. Problem kemiskinan ini akan berdampak kepada munculnya problem-problem lainnya seperti kriminalitas (pencurian, perampokan, pembunuhan, dan lain-lain) yang jika dibiarkan berlarut-larut akan menyebabkan ketidakstabilan sistem perekonomian, politik, hukum dan pertahanan di negeri ini sehingga lambat laun akan mengancam keutuhan NKRI tercinta ini. Rakyat akan semakin resah dan selalu dibayangi ketakutan oleh semakin merebaknya tindak kriminalitas yang penyebab utama adalah suburnya benih kemiskinan di negeri ini.

Di samping itu, akhir-akhir ini bangsa Indonesia sering dilanda oleh bencana alam. Banjir, tanah longsor, tsunami, kasus lumpur lapindo, gunung berapi, dan lain-lain. Problem ini dapat menyedot perhatian dari segenap komponen bangsa baik dari kalangan pemerintah sampai rakyat biasa. Karena jika dibiarkan dapat pula menjadi benih ketidakstabilan bangsa ini.

Untuk problem yang bersumber dari luar (eksternal) dapat dikelompokan menjadi tiga pula, yaitu :

1. Intervensi Asing

Intervensi asing semakin terlihat jelas di negeri ini. Bila dicermati, kebijakan-kebijakan pemerintah syarat dengan kepentingan negara-negara asing. Lihat saja misalnya dijadikannya sebagian daerah Indonesia sebagai basis latihan perang negara lain, seperti Amerika, Singapura, dan lain-lain. Jika ini dibiarkan pula, maka kita tinggal menunggu detik-detik kehancuran NKRI.

2. Rongrongan negara-negara tetangga

Sepertinya Indonesia harus bersikap tegas dalam menyikapi rongrongan dari negara-negara tetangga. Jika tidak, wilayah-wilayah Indonesia akan terus dicaplok oleh negara-negara tetangga. Sebut saja kasus ambalat yang beberapa tahun lalu sangat mencuat. Ketidaktegasan pemerintah pun bisa saja akan mendorong negara-negara tetangga untuk meyerang bangsa ini.

3. Kasus terorisme

Untuk kasus ini penulis tidak mengelompokannya ke dalam problem internal karena kasus terorisme ini masuk dalam ranah permasalahan internasional yang bangsa ini juga mengalami dampaknya. Pengeboman-pengeboman yang dilakukan oleh sekelompok teroris dapat mengancam keutuhan NKRI.

Dari paparan-paparan di atas, jelas bahwa negeri kita ini belum aman dari bahaya perpecahan yang dapat mengancam keutuhan NKRI. Kalau kondiai ini dibiarkan, maka bukan menjadi sesuatu yang mustahil bahwa negeri ini akan bisa diserang dan dijajah kembali baik oleh negara-negara tetangga maupun oleh negara-negara di belahan bumi lainnya. Sebagai bagian dari bangsa ini, kita mempunyai PR bersama dalam rangka ikut berperan aktif menjaga keutuhan NKRI baik dari permasalahan bangsa maupun dari serangan bangsa lain.

B. Meneguhkan Basis Kekuatan Bersama

Seperti penjelasan di atas, Indonesia bisa saja diserang oleh negara-negara lain jika kekuatan kita melemah, persatuan dan kesatuan kita mudah goyah, dan problem-problem kebangsaan masih saja menjerat. Hal ini menjadi virus mematikan yang harus segera ditemukan anti virusnya. Jika kita memang dihadapkan pada situasi negara ini diserang oleh negara tetangga semisal Malaysia, maka kita harus bersatu padu untuk melawan sampai titik darah penghabisan agar negeri kita ini tetap merdeka. Kita harus menanggalkan baju-baju perbedaan baik perbedaan suku, bahasa, warna kulit, keturunan, maupun perbedaan dalam hal agama. Kita harus sadar bahwa semangat membela negara dari serangan musuh adalah merupakan kewajiban semua rakyat Indonesia. Kewajiban tersebut tidak hanya dibebankan kepada aparat militer saja. Hal ini sebagaimana dituangkan dalam UUD 1945.

Untuk aparat militer harus bersinergis antara Angkata Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara dalam mengusir penjajah yang telah menyerang bangsa Indonesia tercinta ini. Maksimalkan kakuatan yang ada untuk melindungi bumi pertiwi ini. Ciptakan strategi-strategi yang handal semisal penyamaran agar bisa menyusup ke benteng pertahanan lawan, penghancuran basis-basis kekutan musuh agar musuh mudah untuk dikalahkan.

Untuk aparat sipil (rakyat biasa), harus ikut berperan aktif dalam perjuangan mempertahankan bangsa ini dari serangan musuh. Kalau kita lihat dari segi historis misalnya, bagaimana rakyat biasa hanya berbekal bambu runcing bisa mengusir penjajah Belanda. Hal ini pun bisa menjadi modal semangat kita bersama bahwa ketika kita bersatu musuh akan mudah dikalahkan. Maka wajar kalau ada sebuah ungkapan : “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”

C. Tindakan Preventif Dalam Mencegah Serangan Musuh

Kemungkinan datangnya serangan dari musuh sebagai upaya mencabik-cabik dan menguasai NKRI ini bisa kita cegah sedini mungkin. Ungkapan : lebih baik mencegah dari pada mengobati bisa kita jadikan pedoman dalam menjaga keutuhan NKRI. Selagi bangsa ini belum menghadapi serangan dari musuh, saatnya kita berbenah diri untuk terus memperbaiki kondisi internal bangsa. Menurut penulis, usaha-usaha yang bisa kita lakukan sebagai bentuk tindakan preventif adalah :

1. Untuk aparat militer, lakukan inovasi-inovasi dalam persenjataan militer dan tingkatkan latihan perang dalam berbagai medan pertempuran, serta terus digalang kesinergisan antara Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara. Tingkatkan pengawasan dan penjagaan terhadap pulau-pulau yang jauh dari wilayah daratan Indonesia dan pulau-pulau yang berada diperbatasan antar negara, agar negara-negara tetangga tidak sewenang-wenang mengeksploitasi sumber daya alam dan mencaplok pulau-pulau yang berada diperbatasan antar negara.
2. Untuk aparat pemerintahan, kaji ulang setiap kebijakan yang telah dikeluarkan apakah ada kebijakan yang merugikan rakyat dan bangsa Indonesia atau tidak. Kalau memang ada suatu kebijakan yang dipandang perlu untuk dikaji ulang, maka segeralah lakukan pengkajian ulang.
3. Untuk para wakil rakyat yang di duduk di parlemen, buatlah Undang-Undang yang jelas dan tegas untuk melindungi keutuhan wilayah NKRI. Batalkan RUU yang syarat dengan kepentingan asing. Kaji ulang setiap Undang-Undang yang ada dengan bersandarkan kepada UUD 1945.
4. Untuk Dosen, Pendidik, dan Mahasiswa, tanamkan kepada para siswa dan masyarakat semangat persatuan dan kesatuan serta kepedulian akan nasib bangsa dalam upaya mencegah perpecahan.
5. Untuk masyarakat secara umum, eleminir sikap fanatik yang berlebihan yang dapat menyebabkan kesenjangan antar kelompok masyarakat sehingga akan berujung pada terciptanya perpecahan dikalangan masyarakat. Lepas jauh-jauh baju perbedaan dan bangun kembali semangat kekeluargaan dalam setiap menghadapi permasalahan bangsa.



Hidup ini bukanlah suatu jalan yang datar dan ditaburi bunga melainkan adakalanya disirami airmata dan juga darah. (Hamka)

Mari pertahankan keutuhan NKRI sampai titik darah penghabisan. MERDEKA!!!

Selasa, 09 September 2008

Ayah...........Maafkan............Aku...........

Ketemu saat iseng-iseng browsing truz nyasar entah kemana.......


Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.

Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!" ....

Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ' Saya tidak tahu..tuan." "Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik ...kan!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.

Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa... Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.


Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!" jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol aja ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut..."Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. "Ayah.. ibu... Dita tidak akan melakukannya lagi.... Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi... Dita sayang ayah.. sayang ibu.", katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok
Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

"Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?... Bagaimana Dita mau bermain nanti?... Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, " katanya berulang-ulang.

Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…..

Tahun demi tahun kedua orang tua tsb menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi...,
Namun..., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tsb tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..

NB: Cerita ini sangat menginspirasi untuk semua orang tua dan semua yang akan berkeluarga atau bahkan bisa menjadi inspirasi untuk menjadi orang tua yang bijak bahwa semua perlu sebuah kelembutan untuk menghadapi anak kita nanti