Mungkin para guru dan kepala sekolah, terutama di sekolah-sekolah negeri telah scara sadar atau tidak bahwa mereka sudah menanamkan budaya pungli sebagai sarana meningkatkan kesejahteraan hidup. Satu cara yang dari segi moral sungguh tidak etis.
Sejak dini, generasi penerus bangsa itu sudah ditanamkan bahwa pungli itu sah untuk mensejahterakan kehidupan. Wujudnya dalam bentuk pemungutan biaya administrasi, sumbangan, uang pembangunan dan lain sebagainya yang pada masa sekarang ini sudah jelas-jelas semua pungutan tersebut sudah tidak dibenarkan.
Kita semua tentunya masih ingat bagaimana saat pertamakali kita masuk sekolah dasar dulu. Sejumlah biaya kita keluarkan untuk uang pendaftaran, uang seragam, uang gedung dan sebagainya.
Kemudian setelah masuk, kita dikenakan uang SPP, uang buku dan segala bentuk pungutan yang intinya sebagai peningkatan kesejahteraan para guru karena kebutuhan hidup dan gaji yang mereka dapatkan tidak sesuai katanya.
Semenjak dari bangku SD di benak kita sudah tertanam apa yang harus kita lakukan jika kebutuhan hidup dengan gaji tidak sesuai. Kita berhak menggunakan kewenangan lewat jabatan yang kita miliki untuk mengumpulkan uang sebagai penambah penghasilan.
Pendidikan agama dan perilaku moral yang diajarkan sudah bertentangan dari sejak dini. Para guru tidak mengingatkan kepada anak murid mereka bahwa apa yang telah mereka lakukan salah dan melanggar hukum.
Tapi mereka malah mencari pembenaran dengan menghadirkan logika seperti: sekolah masih membutuhkan dana untuk pengembangan pendidikan yang kurang dari pemerintah.
Logika yang tentu saja benar tapi salah dari segi moral dan hukum, apabila pelaksanaan pemungutan biaya tersebut dijadikan sebagai sebuah kewajiban dengan sejumlah ada konsekuensi yang mengikat bila tidak dijalankan oleh orangtua peserta didik. Seperti: tidak boleh ikut ujian, tidak dapat hasil nilai akhir, dan sebagainya.
Dengan demikian, anak didik mereka tidak diajarkan cara yang lebih kreatif untuk mendapatkan dana bagi pengembangan pendidikan sekolah mereka. Yang ada mereka diajarkan menyalahgunakan kewenangan atas jabatan pada institusi yang para pendidik miliki.
Walhasil, sampai detik ini sudah hal yang lumrah bagi kita semua kalau generasi muda sekarang sudah bisa melakukan PUNGLI demi hidup mewah dan nyaman. Sebuah perilaku penyimpangan sosial dan budaya yang sangat parah dari sebuah bangsa yang beradab.
Perlahan mungkin kita hanyalah sebuah bangsa biadab yang hidup senang dari penderitaan orang lain melalui PUNGLI, KORUPSI, dan kejahatan sosial dan moral lainnya.
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Minggu, 27 Juni 2010
Jumat, 25 September 2009
Sekolah Negeri vs Sekolah Internasional
Sekolah negeri saat ini memang kalah bersaing dengan sekolah-sekolah swasta khusus sekolah international yang saat ini tumbuh pesat di negeri INDONESIA ini.
Sistem manajement yang sangat konvensional dan kuno adalah penyebab kalahnya persaingan ini. Sekolah negeri selama ini disibukkan dengan mencari perhatian pemerintah tetapi lupa untuk meningkatkan kualitas pengajar dan anak didiknya. Saat ini ada sekitar 1.4 juta guru di seluruh Indonesia. Pemerintah memang menjanjikan pendapatan yang lebih baik bagi mereka namun sayangnya janji ini belum dilaksakan. Guru sendiri nampaknya lebih focus menagih janji tersebut ketimbang memperbaiki kemampuan akademiknya.
Di sekolah international, seorang guru harus memilik berstandar international yang dibuktikan dengan sertifikat mengajar berlevel international. Di sekolah swasta, guru yang diangkat adalah orang-orang yang memiliki keilmuan lebih. Di sekolah negeri pengangkatan guru masih menggunakan cara kuno lewat tes CPNS yang tidak specific untuk menseleksi seseorang layak menjadi guru atau tidak. Faktor guru adalah faktor vital untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas.
Faktor management lainnya yaitu banyaknya jumlah murid dalam kelas. di sekolah negeri rata-rata jumlah murid adalah 40-50 orang per kelas, di sekolah modern jumlah siswa hanya dibatas tidak lebih dari 20-25 orang. Kualitas siswa lebih mudah dikontrol bila jumlah siswanya tidak terlalu ramai.
Sarana dan prasarana juga menunjang kualitas sekolah. Sekolah swasta dan international mengupayakan menghadirkan teknologi terdepan di sekolahnya, sementara di sekolah negeri penggunaan sarana modern sering kali tidak jadi prioritas karena minimnya guru yang menguasai teknologi modern. Orientasi mengajar yang hanya untuk melunaskan kewajiban sebagai seorang guru adalah standar bagi guru-guru negeri.
Apakah bila dengan penambahan gaji yang berlipat seperti janji pemerintah akan bisa mengubah kualitas guru?
Kita tidak tahu jawabannya. Sebagai ini gambaran tuntutan mendapatkan gaji lebih tinggi sudah terjadi di instansi kepolisian. Namun sejauh ini rakyat tidak bisa menerima perubahan kualitas pelayanan polisi walau mereka sudah mendapat gaji lebih.
Jadi pertanyaan buat para bila guru menuntut gaji lebih dari pemerintah, bisakah mereka menjawab tuntutan masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan ?
Sistem manajement yang sangat konvensional dan kuno adalah penyebab kalahnya persaingan ini. Sekolah negeri selama ini disibukkan dengan mencari perhatian pemerintah tetapi lupa untuk meningkatkan kualitas pengajar dan anak didiknya. Saat ini ada sekitar 1.4 juta guru di seluruh Indonesia. Pemerintah memang menjanjikan pendapatan yang lebih baik bagi mereka namun sayangnya janji ini belum dilaksakan. Guru sendiri nampaknya lebih focus menagih janji tersebut ketimbang memperbaiki kemampuan akademiknya.
Di sekolah international, seorang guru harus memilik berstandar international yang dibuktikan dengan sertifikat mengajar berlevel international. Di sekolah swasta, guru yang diangkat adalah orang-orang yang memiliki keilmuan lebih. Di sekolah negeri pengangkatan guru masih menggunakan cara kuno lewat tes CPNS yang tidak specific untuk menseleksi seseorang layak menjadi guru atau tidak. Faktor guru adalah faktor vital untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas.
Faktor management lainnya yaitu banyaknya jumlah murid dalam kelas. di sekolah negeri rata-rata jumlah murid adalah 40-50 orang per kelas, di sekolah modern jumlah siswa hanya dibatas tidak lebih dari 20-25 orang. Kualitas siswa lebih mudah dikontrol bila jumlah siswanya tidak terlalu ramai.
Sarana dan prasarana juga menunjang kualitas sekolah. Sekolah swasta dan international mengupayakan menghadirkan teknologi terdepan di sekolahnya, sementara di sekolah negeri penggunaan sarana modern sering kali tidak jadi prioritas karena minimnya guru yang menguasai teknologi modern. Orientasi mengajar yang hanya untuk melunaskan kewajiban sebagai seorang guru adalah standar bagi guru-guru negeri.
Apakah bila dengan penambahan gaji yang berlipat seperti janji pemerintah akan bisa mengubah kualitas guru?
Kita tidak tahu jawabannya. Sebagai ini gambaran tuntutan mendapatkan gaji lebih tinggi sudah terjadi di instansi kepolisian. Namun sejauh ini rakyat tidak bisa menerima perubahan kualitas pelayanan polisi walau mereka sudah mendapat gaji lebih.
Jadi pertanyaan buat para bila guru menuntut gaji lebih dari pemerintah, bisakah mereka menjawab tuntutan masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan ?
Rabu, 26 Agustus 2009
Mencari Nafkah di Indonesia, Menyumbang Sekolah SINGAPURA
Perilaku sebagian konglomerat Indonesia memang sering menjengkelkan. Cari uang di Indonesia tetapi kalau membelanjakan uangnya malah di Singapura. Buktinya? Lippo Group dan Mayapada Group secara atraktif menyumbang sekolah Singapura. Ada apa sebenarnya?
Kalau soal koruptor atau para maling kelas kakap dari Indonesia lari ke Singapura itu sudah biasa. Maklum saking sering terjadi. Padahal sebenarnya bisa disebut kejadian luar biasa karena korupsi adalah kejahatan luar biasa. Dan biasanya pula, mereka tak pernah berhasil dicokok polisi Indonesia, apalagi sampai diboyong kembali lagi ke Indonesia. Karena meskipun paspor mereka telah dicabut oleh Pemerintah RI,Singapura tetap “belagu bego” tak mengusirnya. Contoh paling gres ya kasus konglomerat Joko Candra, karena gagal dieksekusi oleh Kejaksaan Agung. Joko Candra dan pencoleng-pencoleng uang milik rakyat Indonesia sebelumnya ini malah “dipelihara” terus oleh Singapura. Karena memang mereka punya uang simpanan hasil rampokan dari Indonesia, bagi pemerintah Singapura pun sangat “bermanfaat”, untuk kemudian dikembang-biakkan oleh bank-bank Singapura. Dan boleh jadi uang rampokan ini sebagian dikucurkan sebagai pinjaman komersial kepada pengusaha-pengusaha Indonesia di Jakarta.Tragis!
Yang menjadi luar biasa adalah kelakuan lain konglomerat. Meskipun itu namanya perbuatan “mulia” memberikan sumbangan. Sudah tahu sangat banyak rakyat Indonesia kesulitan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena tak ada uang. Sehingga mereka sangat pantas dan layak untuk menerima bantuan bea-siswa untuk biaya pendidikan dari para warga negara Indonesia yang kebetulan lebih beruntung hidupnya. Konglomerat seperti Stephen Riady, President of the Lippo Group of Companies, Indonesia, secara atraktif malah menyumbang National University of Singapore Business School, sebesar £6.7 juta atau $14 juta. Sejauh ini merupakan sumbangan terbesar pribadi dari pengusaha swasta luar Singapura untuk sekolah kebanggaan pemerintah Singapura ini, bahkan dibanding dengan jumlah sumbangan pengusaha yang berasal dari pengusaha Singapura sendiri. Kemudian perilaku Stephen Riady ini dilanjutkan oleh koleganya sesama konglomerat Indonesia yakni Tahir, Chairman of Mayapada Group dengan menyumbang $1 juta untuk NUS Business School pula.
Meskipun kita tak bisa mengatur atau mencegah setiap pengusaha atau siapa pun untuk membelanjakan uang yang dimilikinya apalagi dengan “cap sumbangan pendidikan” ke mana dia mau menyumbangnya. Namun kedua pengusaha Indonesia ini sepertinya tidak memiliki kepekaan atas penderitaan nyata rakyat Indonesia dimana mereka selama ini tinggal menghirup udara oksigen bersih Indonesia, dan menerima sinar matahari gratis sepanjang tahun serta makan nasi “pulen” dengan lauk pauk lezat dan air bersih Indonesia. Padahal mereka menjadi besar karena mencari duit di Indonesia. Eh, malah menyumbangkan keuntungan yang diraihnya untuk sekolah Singapura. Aduh!
Ketiadaan sensitifitas ini sangat-sangat disesalkan. Coba untuk waktu-waktu mendatang Stephen Ryadi dan Tahir bila berniat tulus untuk menyumbang beasiswa hendaknya meniru mantan Presiden RI ketiga, Prof.DR.Ing. BJ Habibie. Melalui BJ Habibie Center, semua gaji yang diperoleh BJ Habibie selama puluhan tahun bekerja untuk Rakyat Indonesia dan sebagian keuntungan royalti atas banyak invensinya yang berkelas dunia diberikannya pula sepenuhnya bagi siswa dan mahasiswa cerdas miskin Indonesia untuk bisa melanjutkan sekolah.
Di tengah berbagai kontroversi tentang perilaku konglomerat berikut, tetapi mereka tak mengabaikan prinsip kepekaan dan kepantasan dengan menyumbang pendidikan untuk Indonesia di Indonesia. Sampoerna Group misalnya menggandeng ITB yang merupakan perguruan tinggi nomor 90 terbaik untuk bidang Teknologi di Dunia versi the TIME HE QS (UK) untuk membangun dan mengembangkan MBA Sampoerna ITB agar berkelas dunia pula. Sampoerna Group membiayai penuh para mahasiswa cerdas miskin untuk menikmati kuliah dengan kualitas dunia. Atau Bakrie Group yang memberikan beasiswa penuh kepada para siswa cerdas miskin untuk sekolah gratis di Sekolah Bisnis Achmad Bakrie. Atau Tanoto Foundation yang memberikan beasiswa kepada banyak siswa dan mahasiswa cerdas miskin pada berbagai sekolah dan perguruan tinggi yang berada di Indonesia, bukan untuk sekolah yang berada di Singapura.
Kalau soal koruptor atau para maling kelas kakap dari Indonesia lari ke Singapura itu sudah biasa. Maklum saking sering terjadi. Padahal sebenarnya bisa disebut kejadian luar biasa karena korupsi adalah kejahatan luar biasa. Dan biasanya pula, mereka tak pernah berhasil dicokok polisi Indonesia, apalagi sampai diboyong kembali lagi ke Indonesia. Karena meskipun paspor mereka telah dicabut oleh Pemerintah RI,Singapura tetap “belagu bego” tak mengusirnya. Contoh paling gres ya kasus konglomerat Joko Candra, karena gagal dieksekusi oleh Kejaksaan Agung. Joko Candra dan pencoleng-pencoleng uang milik rakyat Indonesia sebelumnya ini malah “dipelihara” terus oleh Singapura. Karena memang mereka punya uang simpanan hasil rampokan dari Indonesia, bagi pemerintah Singapura pun sangat “bermanfaat”, untuk kemudian dikembang-biakkan oleh bank-bank Singapura. Dan boleh jadi uang rampokan ini sebagian dikucurkan sebagai pinjaman komersial kepada pengusaha-pengusaha Indonesia di Jakarta.Tragis!
Yang menjadi luar biasa adalah kelakuan lain konglomerat. Meskipun itu namanya perbuatan “mulia” memberikan sumbangan. Sudah tahu sangat banyak rakyat Indonesia kesulitan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena tak ada uang. Sehingga mereka sangat pantas dan layak untuk menerima bantuan bea-siswa untuk biaya pendidikan dari para warga negara Indonesia yang kebetulan lebih beruntung hidupnya. Konglomerat seperti Stephen Riady, President of the Lippo Group of Companies, Indonesia, secara atraktif malah menyumbang National University of Singapore Business School, sebesar £6.7 juta atau $14 juta. Sejauh ini merupakan sumbangan terbesar pribadi dari pengusaha swasta luar Singapura untuk sekolah kebanggaan pemerintah Singapura ini, bahkan dibanding dengan jumlah sumbangan pengusaha yang berasal dari pengusaha Singapura sendiri. Kemudian perilaku Stephen Riady ini dilanjutkan oleh koleganya sesama konglomerat Indonesia yakni Tahir, Chairman of Mayapada Group dengan menyumbang $1 juta untuk NUS Business School pula.
Meskipun kita tak bisa mengatur atau mencegah setiap pengusaha atau siapa pun untuk membelanjakan uang yang dimilikinya apalagi dengan “cap sumbangan pendidikan” ke mana dia mau menyumbangnya. Namun kedua pengusaha Indonesia ini sepertinya tidak memiliki kepekaan atas penderitaan nyata rakyat Indonesia dimana mereka selama ini tinggal menghirup udara oksigen bersih Indonesia, dan menerima sinar matahari gratis sepanjang tahun serta makan nasi “pulen” dengan lauk pauk lezat dan air bersih Indonesia. Padahal mereka menjadi besar karena mencari duit di Indonesia. Eh, malah menyumbangkan keuntungan yang diraihnya untuk sekolah Singapura. Aduh!
Ketiadaan sensitifitas ini sangat-sangat disesalkan. Coba untuk waktu-waktu mendatang Stephen Ryadi dan Tahir bila berniat tulus untuk menyumbang beasiswa hendaknya meniru mantan Presiden RI ketiga, Prof.DR.Ing. BJ Habibie. Melalui BJ Habibie Center, semua gaji yang diperoleh BJ Habibie selama puluhan tahun bekerja untuk Rakyat Indonesia dan sebagian keuntungan royalti atas banyak invensinya yang berkelas dunia diberikannya pula sepenuhnya bagi siswa dan mahasiswa cerdas miskin Indonesia untuk bisa melanjutkan sekolah.
Di tengah berbagai kontroversi tentang perilaku konglomerat berikut, tetapi mereka tak mengabaikan prinsip kepekaan dan kepantasan dengan menyumbang pendidikan untuk Indonesia di Indonesia. Sampoerna Group misalnya menggandeng ITB yang merupakan perguruan tinggi nomor 90 terbaik untuk bidang Teknologi di Dunia versi the TIME HE QS (UK) untuk membangun dan mengembangkan MBA Sampoerna ITB agar berkelas dunia pula. Sampoerna Group membiayai penuh para mahasiswa cerdas miskin untuk menikmati kuliah dengan kualitas dunia. Atau Bakrie Group yang memberikan beasiswa penuh kepada para siswa cerdas miskin untuk sekolah gratis di Sekolah Bisnis Achmad Bakrie. Atau Tanoto Foundation yang memberikan beasiswa kepada banyak siswa dan mahasiswa cerdas miskin pada berbagai sekolah dan perguruan tinggi yang berada di Indonesia, bukan untuk sekolah yang berada di Singapura.
"CINTAILAH PRODUK-PRODUK INDONESIA"
Senin, 24 Agustus 2009
Menulis ATAU Karier Hancur....
Bila para dosen apalagi profesor tak mampu berkarya yang salah satu indikator utamanya adalah karya penelitiannya dimuat di jurnal-jurnal kelas dunia. Maka tak mengherankan tidak sedikit dari mereka dengan jiwa ksatria mundur dari kampus kelas dunia untuk alih profesi. Bahkan sampai ada para penyandang PhD yang menjadi supir taksi dan pencuci piring di restoran di Amerika Serikat. Bagaimana di Indonesia?
"Publish or perish". Demikian adagium yang sangat terkenal di kalangan para dosen peneliti di kampus berkelas dunia. Dan adagium ini diterapkan secara konsisten oleh mereka. Sehingga para dosen peneliti berlomba-lomba secara sehat untuk terus meneliti, menuliskannya ke dalam sebuah paper dan mengirimkannya ke jurnal-jurnal kredibel di dunia untuk dinilai oleh para "peer reviewer" berkelas dunia pula. Apakah karya penelitiannya layak muat atau hanya paper kelas ecek-ecek?
Tak mengherankan bila universitas-universitas kelas dunia seperti Harvard University, MIT,
Stanford University, Cambridge University, Oxford University, para dosen peneliti dan profesor-profesornya selalu terkondisi untuk terus meneliti agar pencapaiannya terus meningkat dari tahun ke tahun. Universitas-universitas kelas dunia tersebut memiliki Citation Index di atas 3. Artinya rata-rata dosen peneliti mereka menulis 3 paper hasil
penelitian orisinal (bukan review paper) per tahun yang dimuat di jurnal-jurnal kelas dunia.
Ceriteranya dari Indonesia, hanya ada 3 universitas saja yang sudah berkelas dunia versi the TIME Higher Education QS (Inggris) yakni ITB, Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada. Namun bila Citation Index dijadikan ukuran bagi ketiga Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia ini, menurut pendapat saya ketiganya sesungguhnya masih belum
pantas untuk menyandang predikat “World Class University”.
Maka bisa dipahami bila ada seorang dosen peneliti UGM yang berjiwa ksatria yakni Kepala Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) UGM, DR. Susetiawan, yang mengingatkan tanpa menafikan prestasi UGM di kategori Ilmu-ilmu Sosial, UGM harus tetap mawas diri dan tak lupa melakukan otokritik. ”Benarkah UGM sudah sesuai dengan peringkat kualitas tersebut?”, tanya doktor peneliti sosial UGM ini. Menurut Susetiawan, kalangan akademik khususnya dari kalangan Ilmu-ilmu Sosial di Indonesia harus mempertanyakan keabsahan pemberian peringkat oleh the TIME HE QS tersebut untuk UGM. Sebab kenyataannya sampai saat ini belum ada figur ilmuwan sosial yang dilahirkan dari UGM dan menjadi rujukan kalangan akademik. Sampai saat ini, mereka yang menjadi rujukan hasil penelitian Imu Sosial di Indonesia justru berasal dari peneliti asing seperti Lance Castel, Clifford Geertz dan Robert Hefner.
ITB yang masih agak mendingan dibanding PTN atau lembaga riset lainnya di Indonesia pun yakni dengan berhasil mencatat 1.171 judul per 25 Juni 2009 versi Scopus (lembaga independen yang mengumpulkan berbagai karya dari jurnal ilmiah ternama dan terpilih di dunia). Jangan berpuas diri. Sebab fakta ini belum mencerminkan gambaran umum kemampuan para dosen ITB secara merata. Bahkan yang sangat memprihatinkan masih lumayan banyak profesor ITB yang karyanya belum pernah dimuat di jurnal-jurnal ilmiah kelas dunia. Jadi tak lebih mereka masing-masing hanya menulis sebuah disertasi yang dibanggakan sepanjang
hidupnya, tetapi itu pun belum tentu pula dijadikan sebagai “Cited Book” oleh para peneliti.
Karena sesungguhnya artikel-artikel ilmiah dosen ITB yang dimuat di jurnal-jurnal kelas dunia tersebut versi Scopus ------seperti Nature, Lancet, Science, Proceedings of the National Academy of Science of the United States of America, Journal of the Acoustical Society of America, Journal of Vibration Acoustic, Physica C-Superconductivity, Advanced
Materials, Physical Review, Energy Sources, International Journal of Heat and Mass Transfer, Mineallium Deposita, Geothermics, Journal of Sedimentary Research, Geochemical Exploration, Review of Geophysics, Earth and Planetary Science, Geophysical Journal International, Geophysical Journal International, Technophysics, Australian Journal of Combinatoria, Journal of Graph Theory, Chemical Engineering Science, Journal of Membrane Science, Filtration and Separation, Chemical and Engineering Data, Chemical Engineering Science, Polymer, American Journal of Cardiology, American Heart Journal, British Journal of Haematology, Circulation, American Journal of Human Genetics, Human Molecular Genetics, Theoritic and Applied Genetics, Biochemical Pharmacology, Biology of the Cell, Molecular Biology, Infection and Immunity, Journal of Immunology, Archive of Biochemistry and Biophysics, Plant Molecular Biology, Plant Journal, Biochemical Pharmacology, Biology of the Cell, Molecular and Cellular Endocrinology, Habitat, Cities, World Development, Urban Studies, Journal of Waterway Port Coastal, -------- boleh dibilang ditulis oleh dosen ITB
yang “eta keneh, eta keneh” (itu-itu saja). Meskipun kita boleh memberikan apresiasi yang tinggi karena dosen yang itu-itu saja ternyata adalah mayoritas dosen-dosen muda ITB. Karena itu kita boleh berharap ke depan akan lebih banyak lagi mereka berkarya dan juga
membimbing generasi dosen muda berikutnya.
Sesungguhnya ITB paling diharapkan Indonesia karena ITB memiliki jumlah dosen bergelar derajat Doktor (PhD) terbanyak di Indonesia yakni 798 dosen bergelar PhD dari jumlah 1.025 seluruh dosen ITB. Mengapa? Kita berharap banyak kepada para dosen penyandang PhD lulusan “World Class University” karena mereka sudah terbiasa untuk terkondisi pada situasi atau iklim meneliti yang tinggi. Jadi tak mengherankan bila di Universitas Indonesia, UGM, IPB Bogor dan LIPI pun mirip dengan kasus yang ditemui di ITB. Malah mereka lebih parah lagi. Maksudnya dengan jumlah dosen UI, UGM dan IPB yang jauh lebih banyak dari jumlah dosen ITB; maka UI, UGM dan IPB yang masing-masing memiliki sekitar 3.500 dosen, semestinya jumlah judul artikel ilmiah yang berhasil diraihnya harus jauh lebih banyak dari ITB (Lihat Tabel di bawah ini).
“Jumlah Judul Artikel Ilmiah Universitas dan Lembaga Penelitian di Indonesia yang Dimuat di Jurnal-jurnal Ilmiah Kelas Dunia Versi Scopus per 25 Juni 2009”
1. Institut Teknologi Bandung (ITB): 1.171 judul
2. Universitas Indonesia (UI): 1.160 judul
3. Universitas Gadjah Mada (UGM): 717 judul
4. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI): 517
5. Institut PertanianBogor (IPB): 509 judul
Sumber: “Pidato Rektor ITB pada Peringatan 89 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia, 4 Juli 2009”.
Ada banyak kilah dari para dosen bahwa PTN mendapat Dana Penelitian melalui dana Ditjen Pendidikan Tinggi, Depdiknas RI dari sumber APBN 2009 sangat minim. Yakni di bawah Rp. 500 milyar. Itu pun harus dibagi kepada ratusan PTN yang ada. Jadi sangat sulit diharapkan para dosen peneliti untuk berbuat lebih jauh untuk melakukan riset orisinal dengan dana yang sangat minim itu. Memang sih kalau dibanding dengan dana penelitian yang dibelanjakan oleh “World Class Universities”, dana penelitian PTN Indonesia ibarat bumi dan langit (Lihat
Tabel).
Belanja Riset Universitas-universitas Kelas Dunia:
1. California Institute of Technology (Caltech): US$ 1.780.600.000.-
2. Massachusetts Institute of Technology (MIT): US$ 598.300.000.-
3. Harvard University: US$ 569.900.000.-
4. Oxford University: US$ 567.700.000.-
5. Kyoto University: US$ 527.500.000.-
6. National University of Singapore (NUS): US$470.400.000.-
7. Seoul National University (SNU): US$ 298.200.000.-
8. Tokyo Institute of Technology: US$ 116.400.000.-
9. Universitas Gadjah Mada (UGM): US$ 30.000.000.-
10. Institut Teknologi Bandung (ITB): US$ 4.000.000.-
Sumber: Website masing-masing Perguruan Tinggi, diolah kembali.
Namun menurut saya, jumlah dana penelitian janganlah dijadikan “kambing hitam” terus-terusan untuk menutup ketidak-mampuan meneliti, menulis dan mempublikasikannya di jurnal ilmiah kelas dunia. Kita berharap, para dosen di kampus-kampus Indonesia dapat memelihara semangat juang untuk terus meneliti dengan segala keterbatasan yang ada dengan melakukan
terobosan kreatif. Karena ternyata Indonesia selalu menghasilkan “keajaiban” dengan kekayaan anak manusianya yang bertalenta luar biasa untuk menghasilkan karya yang luar biasa pula. Jadi sambil berjalan memperjuangkan kenaikan dana penelitian dari pemerintah dan sumber-sumber lain misalnya dunia industri dan para filantropis, ya kita berharap para dosen peneliti tak putus asa. Toh masih relatif “untung” nasibnya tidak seperti koleganya di Amerika Serikat yang alih profesi menjadi sopir taksi dan pencuci piring di restoran, padahal mereka adalah para penyandang PhD lulusan universitas kelas dunia.
"Publish or perish". Demikian adagium yang sangat terkenal di kalangan para dosen peneliti di kampus berkelas dunia. Dan adagium ini diterapkan secara konsisten oleh mereka. Sehingga para dosen peneliti berlomba-lomba secara sehat untuk terus meneliti, menuliskannya ke dalam sebuah paper dan mengirimkannya ke jurnal-jurnal kredibel di dunia untuk dinilai oleh para "peer reviewer" berkelas dunia pula. Apakah karya penelitiannya layak muat atau hanya paper kelas ecek-ecek?
Tak mengherankan bila universitas-universitas kelas dunia seperti Harvard University, MIT,
Stanford University, Cambridge University, Oxford University, para dosen peneliti dan profesor-profesornya selalu terkondisi untuk terus meneliti agar pencapaiannya terus meningkat dari tahun ke tahun. Universitas-universitas kelas dunia tersebut memiliki Citation Index di atas 3. Artinya rata-rata dosen peneliti mereka menulis 3 paper hasil
penelitian orisinal (bukan review paper) per tahun yang dimuat di jurnal-jurnal kelas dunia.
Ceriteranya dari Indonesia, hanya ada 3 universitas saja yang sudah berkelas dunia versi the TIME Higher Education QS (Inggris) yakni ITB, Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada. Namun bila Citation Index dijadikan ukuran bagi ketiga Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia ini, menurut pendapat saya ketiganya sesungguhnya masih belum
pantas untuk menyandang predikat “World Class University”.
Maka bisa dipahami bila ada seorang dosen peneliti UGM yang berjiwa ksatria yakni Kepala Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) UGM, DR. Susetiawan, yang mengingatkan tanpa menafikan prestasi UGM di kategori Ilmu-ilmu Sosial, UGM harus tetap mawas diri dan tak lupa melakukan otokritik. ”Benarkah UGM sudah sesuai dengan peringkat kualitas tersebut?”, tanya doktor peneliti sosial UGM ini. Menurut Susetiawan, kalangan akademik khususnya dari kalangan Ilmu-ilmu Sosial di Indonesia harus mempertanyakan keabsahan pemberian peringkat oleh the TIME HE QS tersebut untuk UGM. Sebab kenyataannya sampai saat ini belum ada figur ilmuwan sosial yang dilahirkan dari UGM dan menjadi rujukan kalangan akademik. Sampai saat ini, mereka yang menjadi rujukan hasil penelitian Imu Sosial di Indonesia justru berasal dari peneliti asing seperti Lance Castel, Clifford Geertz dan Robert Hefner.
ITB yang masih agak mendingan dibanding PTN atau lembaga riset lainnya di Indonesia pun yakni dengan berhasil mencatat 1.171 judul per 25 Juni 2009 versi Scopus (lembaga independen yang mengumpulkan berbagai karya dari jurnal ilmiah ternama dan terpilih di dunia). Jangan berpuas diri. Sebab fakta ini belum mencerminkan gambaran umum kemampuan para dosen ITB secara merata. Bahkan yang sangat memprihatinkan masih lumayan banyak profesor ITB yang karyanya belum pernah dimuat di jurnal-jurnal ilmiah kelas dunia. Jadi tak lebih mereka masing-masing hanya menulis sebuah disertasi yang dibanggakan sepanjang
hidupnya, tetapi itu pun belum tentu pula dijadikan sebagai “Cited Book” oleh para peneliti.
Karena sesungguhnya artikel-artikel ilmiah dosen ITB yang dimuat di jurnal-jurnal kelas dunia tersebut versi Scopus ------seperti Nature, Lancet, Science, Proceedings of the National Academy of Science of the United States of America, Journal of the Acoustical Society of America, Journal of Vibration Acoustic, Physica C-Superconductivity, Advanced
Materials, Physical Review, Energy Sources, International Journal of Heat and Mass Transfer, Mineallium Deposita, Geothermics, Journal of Sedimentary Research, Geochemical Exploration, Review of Geophysics, Earth and Planetary Science, Geophysical Journal International, Geophysical Journal International, Technophysics, Australian Journal of Combinatoria, Journal of Graph Theory, Chemical Engineering Science, Journal of Membrane Science, Filtration and Separation, Chemical and Engineering Data, Chemical Engineering Science, Polymer, American Journal of Cardiology, American Heart Journal, British Journal of Haematology, Circulation, American Journal of Human Genetics, Human Molecular Genetics, Theoritic and Applied Genetics, Biochemical Pharmacology, Biology of the Cell, Molecular Biology, Infection and Immunity, Journal of Immunology, Archive of Biochemistry and Biophysics, Plant Molecular Biology, Plant Journal, Biochemical Pharmacology, Biology of the Cell, Molecular and Cellular Endocrinology, Habitat, Cities, World Development, Urban Studies, Journal of Waterway Port Coastal, -------- boleh dibilang ditulis oleh dosen ITB
yang “eta keneh, eta keneh” (itu-itu saja). Meskipun kita boleh memberikan apresiasi yang tinggi karena dosen yang itu-itu saja ternyata adalah mayoritas dosen-dosen muda ITB. Karena itu kita boleh berharap ke depan akan lebih banyak lagi mereka berkarya dan juga
membimbing generasi dosen muda berikutnya.
Sesungguhnya ITB paling diharapkan Indonesia karena ITB memiliki jumlah dosen bergelar derajat Doktor (PhD) terbanyak di Indonesia yakni 798 dosen bergelar PhD dari jumlah 1.025 seluruh dosen ITB. Mengapa? Kita berharap banyak kepada para dosen penyandang PhD lulusan “World Class University” karena mereka sudah terbiasa untuk terkondisi pada situasi atau iklim meneliti yang tinggi. Jadi tak mengherankan bila di Universitas Indonesia, UGM, IPB Bogor dan LIPI pun mirip dengan kasus yang ditemui di ITB. Malah mereka lebih parah lagi. Maksudnya dengan jumlah dosen UI, UGM dan IPB yang jauh lebih banyak dari jumlah dosen ITB; maka UI, UGM dan IPB yang masing-masing memiliki sekitar 3.500 dosen, semestinya jumlah judul artikel ilmiah yang berhasil diraihnya harus jauh lebih banyak dari ITB (Lihat Tabel di bawah ini).
“Jumlah Judul Artikel Ilmiah Universitas dan Lembaga Penelitian di Indonesia yang Dimuat di Jurnal-jurnal Ilmiah Kelas Dunia Versi Scopus per 25 Juni 2009”
1. Institut Teknologi Bandung (ITB): 1.171 judul
2. Universitas Indonesia (UI): 1.160 judul
3. Universitas Gadjah Mada (UGM): 717 judul
4. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI): 517
5. Institut PertanianBogor (IPB): 509 judul
Sumber: “Pidato Rektor ITB pada Peringatan 89 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia, 4 Juli 2009”.
Ada banyak kilah dari para dosen bahwa PTN mendapat Dana Penelitian melalui dana Ditjen Pendidikan Tinggi, Depdiknas RI dari sumber APBN 2009 sangat minim. Yakni di bawah Rp. 500 milyar. Itu pun harus dibagi kepada ratusan PTN yang ada. Jadi sangat sulit diharapkan para dosen peneliti untuk berbuat lebih jauh untuk melakukan riset orisinal dengan dana yang sangat minim itu. Memang sih kalau dibanding dengan dana penelitian yang dibelanjakan oleh “World Class Universities”, dana penelitian PTN Indonesia ibarat bumi dan langit (Lihat
Tabel).
Belanja Riset Universitas-universitas Kelas Dunia:
1. California Institute of Technology (Caltech): US$ 1.780.600.000.-
2. Massachusetts Institute of Technology (MIT): US$ 598.300.000.-
3. Harvard University: US$ 569.900.000.-
4. Oxford University: US$ 567.700.000.-
5. Kyoto University: US$ 527.500.000.-
6. National University of Singapore (NUS): US$470.400.000.-
7. Seoul National University (SNU): US$ 298.200.000.-
8. Tokyo Institute of Technology: US$ 116.400.000.-
9. Universitas Gadjah Mada (UGM): US$ 30.000.000.-
10. Institut Teknologi Bandung (ITB): US$ 4.000.000.-
Sumber: Website masing-masing Perguruan Tinggi, diolah kembali.
Namun menurut saya, jumlah dana penelitian janganlah dijadikan “kambing hitam” terus-terusan untuk menutup ketidak-mampuan meneliti, menulis dan mempublikasikannya di jurnal ilmiah kelas dunia. Kita berharap, para dosen di kampus-kampus Indonesia dapat memelihara semangat juang untuk terus meneliti dengan segala keterbatasan yang ada dengan melakukan
terobosan kreatif. Karena ternyata Indonesia selalu menghasilkan “keajaiban” dengan kekayaan anak manusianya yang bertalenta luar biasa untuk menghasilkan karya yang luar biasa pula. Jadi sambil berjalan memperjuangkan kenaikan dana penelitian dari pemerintah dan sumber-sumber lain misalnya dunia industri dan para filantropis, ya kita berharap para dosen peneliti tak putus asa. Toh masih relatif “untung” nasibnya tidak seperti koleganya di Amerika Serikat yang alih profesi menjadi sopir taksi dan pencuci piring di restoran, padahal mereka adalah para penyandang PhD lulusan universitas kelas dunia.
Langganan:
Postingan (Atom)