Mungkin para guru dan kepala sekolah, terutama di sekolah-sekolah negeri telah scara sadar atau tidak bahwa mereka sudah menanamkan budaya pungli sebagai sarana meningkatkan kesejahteraan hidup. Satu cara yang dari segi moral sungguh tidak etis.
Sejak dini, generasi penerus bangsa itu sudah ditanamkan bahwa pungli itu sah untuk mensejahterakan kehidupan. Wujudnya dalam bentuk pemungutan biaya administrasi, sumbangan, uang pembangunan dan lain sebagainya yang pada masa sekarang ini sudah jelas-jelas semua pungutan tersebut sudah tidak dibenarkan.
Kita semua tentunya masih ingat bagaimana saat pertamakali kita masuk sekolah dasar dulu. Sejumlah biaya kita keluarkan untuk uang pendaftaran, uang seragam, uang gedung dan sebagainya.
Kemudian setelah masuk, kita dikenakan uang SPP, uang buku dan segala bentuk pungutan yang intinya sebagai peningkatan kesejahteraan para guru karena kebutuhan hidup dan gaji yang mereka dapatkan tidak sesuai katanya.
Semenjak dari bangku SD di benak kita sudah tertanam apa yang harus kita lakukan jika kebutuhan hidup dengan gaji tidak sesuai. Kita berhak menggunakan kewenangan lewat jabatan yang kita miliki untuk mengumpulkan uang sebagai penambah penghasilan.
Pendidikan agama dan perilaku moral yang diajarkan sudah bertentangan dari sejak dini. Para guru tidak mengingatkan kepada anak murid mereka bahwa apa yang telah mereka lakukan salah dan melanggar hukum.
Tapi mereka malah mencari pembenaran dengan menghadirkan logika seperti: sekolah masih membutuhkan dana untuk pengembangan pendidikan yang kurang dari pemerintah.
Logika yang tentu saja benar tapi salah dari segi moral dan hukum, apabila pelaksanaan pemungutan biaya tersebut dijadikan sebagai sebuah kewajiban dengan sejumlah ada konsekuensi yang mengikat bila tidak dijalankan oleh orangtua peserta didik. Seperti: tidak boleh ikut ujian, tidak dapat hasil nilai akhir, dan sebagainya.
Dengan demikian, anak didik mereka tidak diajarkan cara yang lebih kreatif untuk mendapatkan dana bagi pengembangan pendidikan sekolah mereka. Yang ada mereka diajarkan menyalahgunakan kewenangan atas jabatan pada institusi yang para pendidik miliki.
Walhasil, sampai detik ini sudah hal yang lumrah bagi kita semua kalau generasi muda sekarang sudah bisa melakukan PUNGLI demi hidup mewah dan nyaman. Sebuah perilaku penyimpangan sosial dan budaya yang sangat parah dari sebuah bangsa yang beradab.
Perlahan mungkin kita hanyalah sebuah bangsa biadab yang hidup senang dari penderitaan orang lain melalui PUNGLI, KORUPSI, dan kejahatan sosial dan moral lainnya.
Tampilkan postingan dengan label korupsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label korupsi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 27 Juni 2010
Minggu, 13 Juni 2010
Doa untuk koruptor & the-gank's
Mari kita doakan para maling uang rakyat, perampok uang uang rakyat serta pejabat yg suka memeras atau dlm bahasa halusnya adalah peminta pungli atau peminta uang setoran dr masyarakat.. Agar sadar
Semoga diampuni Tuhan... karena apa dimakan/dinikmati dari uang hasil seperti itu ke badannya biasanya jadi penyakit, mulai yg ringan sampai kanker, karena badannya dimasuki oleh makanan dan barang-barang yang dibeli dari uang kotor, tidak ada keikhlasan dari yg dirampok, diperas..
doakan baik masa muda atau masa tuanya...
jika nanggung penyakit yang menyakitkan... diberi keringanan... semoga diampuni...
kalau jalannya diampuni dengan harus nanggung rasa sakit yang parah dan lama...
semoga kalau tidak mati-mati diberi keringanan dalam menanggung rasa sakit keluarga, baik suami/istri serta anak atau keturunannya yang diberi makanan dan dibesarkan dari uang kotor itu, biasanya bisa jadi tidak baik, bisa saja jadi penyakit, atau narkoba atau salah pergaulan, lemah mental, atau proses hidup yang memalukan dsb..
semoga diberi keringanan
Karena tindakan mereka menyengsarakan jutaan rakyat, menyengsarakan generasi penerus bangsa, merusak bangsa, negara...
semoga cepat2 sadar...
Karena sebetulnya tindakan mereka itu lebih keji daripada tuyul, setan, buto ijo, babi ngepet, iblis, siluman, dsb...
Jika belum sadar juga, karena mereka memang sebenarnya adalah iblis, setan, tuyul, babi ngepet, siluman yang berbaju manusia... Semoga oleh Tuhan segera diperlihatkan wujud aslinya dan kembali kealamnya sana... yakni alam setan, alam siluman dsb...
Sebarkan himbauan ini... dan ada baiknya jika tiap orang.. selain berdoa, juga tiap hari menulis di email, di blog, di facebook, di secarik kertas.. doa untuk koruptor and his gank's ini...
dan kertas di poskan atau cukup diletakkan di kursi bus kota/bus antar kota, kursi kereta api, kursi pesawat, kotak pos, bus surat, meja penerima tamu, kursi-kursi kantor dll tempat, khususnya kalau bisa dikantor pemerintah..
agar para siluman, iblis, setan, tuyul dsb itu segera meninggalkan tubuh orang yang disusupinya...
agar indonesia kembali dihuni oleh manusia berjiwa manusia... bukan berbadan manusia tapi ruhnya setan, iblis, tuyul, buto ijo babi ngepet dsb...
Semoga diampuni Tuhan... karena apa dimakan/dinikmati dari uang hasil seperti itu ke badannya biasanya jadi penyakit, mulai yg ringan sampai kanker, karena badannya dimasuki oleh makanan dan barang-barang yang dibeli dari uang kotor, tidak ada keikhlasan dari yg dirampok, diperas..
doakan baik masa muda atau masa tuanya...
jika nanggung penyakit yang menyakitkan... diberi keringanan... semoga diampuni...
kalau jalannya diampuni dengan harus nanggung rasa sakit yang parah dan lama...
semoga kalau tidak mati-mati diberi keringanan dalam menanggung rasa sakit keluarga, baik suami/istri serta anak atau keturunannya yang diberi makanan dan dibesarkan dari uang kotor itu, biasanya bisa jadi tidak baik, bisa saja jadi penyakit, atau narkoba atau salah pergaulan, lemah mental, atau proses hidup yang memalukan dsb..
semoga diberi keringanan
Karena tindakan mereka menyengsarakan jutaan rakyat, menyengsarakan generasi penerus bangsa, merusak bangsa, negara...
semoga cepat2 sadar...
Karena sebetulnya tindakan mereka itu lebih keji daripada tuyul, setan, buto ijo, babi ngepet, iblis, siluman, dsb...
Jika belum sadar juga, karena mereka memang sebenarnya adalah iblis, setan, tuyul, babi ngepet, siluman yang berbaju manusia... Semoga oleh Tuhan segera diperlihatkan wujud aslinya dan kembali kealamnya sana... yakni alam setan, alam siluman dsb...
Sebarkan himbauan ini... dan ada baiknya jika tiap orang.. selain berdoa, juga tiap hari menulis di email, di blog, di facebook, di secarik kertas.. doa untuk koruptor and his gank's ini...
dan kertas di poskan atau cukup diletakkan di kursi bus kota/bus antar kota, kursi kereta api, kursi pesawat, kotak pos, bus surat, meja penerima tamu, kursi-kursi kantor dll tempat, khususnya kalau bisa dikantor pemerintah..
agar para siluman, iblis, setan, tuyul dsb itu segera meninggalkan tubuh orang yang disusupinya...
agar indonesia kembali dihuni oleh manusia berjiwa manusia... bukan berbadan manusia tapi ruhnya setan, iblis, tuyul, buto ijo babi ngepet dsb...
Rabu, 26 Agustus 2009
Mencari Nafkah di Indonesia, Menyumbang Sekolah SINGAPURA
Perilaku sebagian konglomerat Indonesia memang sering menjengkelkan. Cari uang di Indonesia tetapi kalau membelanjakan uangnya malah di Singapura. Buktinya? Lippo Group dan Mayapada Group secara atraktif menyumbang sekolah Singapura. Ada apa sebenarnya?
Kalau soal koruptor atau para maling kelas kakap dari Indonesia lari ke Singapura itu sudah biasa. Maklum saking sering terjadi. Padahal sebenarnya bisa disebut kejadian luar biasa karena korupsi adalah kejahatan luar biasa. Dan biasanya pula, mereka tak pernah berhasil dicokok polisi Indonesia, apalagi sampai diboyong kembali lagi ke Indonesia. Karena meskipun paspor mereka telah dicabut oleh Pemerintah RI,Singapura tetap “belagu bego” tak mengusirnya. Contoh paling gres ya kasus konglomerat Joko Candra, karena gagal dieksekusi oleh Kejaksaan Agung. Joko Candra dan pencoleng-pencoleng uang milik rakyat Indonesia sebelumnya ini malah “dipelihara” terus oleh Singapura. Karena memang mereka punya uang simpanan hasil rampokan dari Indonesia, bagi pemerintah Singapura pun sangat “bermanfaat”, untuk kemudian dikembang-biakkan oleh bank-bank Singapura. Dan boleh jadi uang rampokan ini sebagian dikucurkan sebagai pinjaman komersial kepada pengusaha-pengusaha Indonesia di Jakarta.Tragis!
Yang menjadi luar biasa adalah kelakuan lain konglomerat. Meskipun itu namanya perbuatan “mulia” memberikan sumbangan. Sudah tahu sangat banyak rakyat Indonesia kesulitan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena tak ada uang. Sehingga mereka sangat pantas dan layak untuk menerima bantuan bea-siswa untuk biaya pendidikan dari para warga negara Indonesia yang kebetulan lebih beruntung hidupnya. Konglomerat seperti Stephen Riady, President of the Lippo Group of Companies, Indonesia, secara atraktif malah menyumbang National University of Singapore Business School, sebesar £6.7 juta atau $14 juta. Sejauh ini merupakan sumbangan terbesar pribadi dari pengusaha swasta luar Singapura untuk sekolah kebanggaan pemerintah Singapura ini, bahkan dibanding dengan jumlah sumbangan pengusaha yang berasal dari pengusaha Singapura sendiri. Kemudian perilaku Stephen Riady ini dilanjutkan oleh koleganya sesama konglomerat Indonesia yakni Tahir, Chairman of Mayapada Group dengan menyumbang $1 juta untuk NUS Business School pula.
Meskipun kita tak bisa mengatur atau mencegah setiap pengusaha atau siapa pun untuk membelanjakan uang yang dimilikinya apalagi dengan “cap sumbangan pendidikan” ke mana dia mau menyumbangnya. Namun kedua pengusaha Indonesia ini sepertinya tidak memiliki kepekaan atas penderitaan nyata rakyat Indonesia dimana mereka selama ini tinggal menghirup udara oksigen bersih Indonesia, dan menerima sinar matahari gratis sepanjang tahun serta makan nasi “pulen” dengan lauk pauk lezat dan air bersih Indonesia. Padahal mereka menjadi besar karena mencari duit di Indonesia. Eh, malah menyumbangkan keuntungan yang diraihnya untuk sekolah Singapura. Aduh!
Ketiadaan sensitifitas ini sangat-sangat disesalkan. Coba untuk waktu-waktu mendatang Stephen Ryadi dan Tahir bila berniat tulus untuk menyumbang beasiswa hendaknya meniru mantan Presiden RI ketiga, Prof.DR.Ing. BJ Habibie. Melalui BJ Habibie Center, semua gaji yang diperoleh BJ Habibie selama puluhan tahun bekerja untuk Rakyat Indonesia dan sebagian keuntungan royalti atas banyak invensinya yang berkelas dunia diberikannya pula sepenuhnya bagi siswa dan mahasiswa cerdas miskin Indonesia untuk bisa melanjutkan sekolah.
Di tengah berbagai kontroversi tentang perilaku konglomerat berikut, tetapi mereka tak mengabaikan prinsip kepekaan dan kepantasan dengan menyumbang pendidikan untuk Indonesia di Indonesia. Sampoerna Group misalnya menggandeng ITB yang merupakan perguruan tinggi nomor 90 terbaik untuk bidang Teknologi di Dunia versi the TIME HE QS (UK) untuk membangun dan mengembangkan MBA Sampoerna ITB agar berkelas dunia pula. Sampoerna Group membiayai penuh para mahasiswa cerdas miskin untuk menikmati kuliah dengan kualitas dunia. Atau Bakrie Group yang memberikan beasiswa penuh kepada para siswa cerdas miskin untuk sekolah gratis di Sekolah Bisnis Achmad Bakrie. Atau Tanoto Foundation yang memberikan beasiswa kepada banyak siswa dan mahasiswa cerdas miskin pada berbagai sekolah dan perguruan tinggi yang berada di Indonesia, bukan untuk sekolah yang berada di Singapura.
Kalau soal koruptor atau para maling kelas kakap dari Indonesia lari ke Singapura itu sudah biasa. Maklum saking sering terjadi. Padahal sebenarnya bisa disebut kejadian luar biasa karena korupsi adalah kejahatan luar biasa. Dan biasanya pula, mereka tak pernah berhasil dicokok polisi Indonesia, apalagi sampai diboyong kembali lagi ke Indonesia. Karena meskipun paspor mereka telah dicabut oleh Pemerintah RI,Singapura tetap “belagu bego” tak mengusirnya. Contoh paling gres ya kasus konglomerat Joko Candra, karena gagal dieksekusi oleh Kejaksaan Agung. Joko Candra dan pencoleng-pencoleng uang milik rakyat Indonesia sebelumnya ini malah “dipelihara” terus oleh Singapura. Karena memang mereka punya uang simpanan hasil rampokan dari Indonesia, bagi pemerintah Singapura pun sangat “bermanfaat”, untuk kemudian dikembang-biakkan oleh bank-bank Singapura. Dan boleh jadi uang rampokan ini sebagian dikucurkan sebagai pinjaman komersial kepada pengusaha-pengusaha Indonesia di Jakarta.Tragis!
Yang menjadi luar biasa adalah kelakuan lain konglomerat. Meskipun itu namanya perbuatan “mulia” memberikan sumbangan. Sudah tahu sangat banyak rakyat Indonesia kesulitan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena tak ada uang. Sehingga mereka sangat pantas dan layak untuk menerima bantuan bea-siswa untuk biaya pendidikan dari para warga negara Indonesia yang kebetulan lebih beruntung hidupnya. Konglomerat seperti Stephen Riady, President of the Lippo Group of Companies, Indonesia, secara atraktif malah menyumbang National University of Singapore Business School, sebesar £6.7 juta atau $14 juta. Sejauh ini merupakan sumbangan terbesar pribadi dari pengusaha swasta luar Singapura untuk sekolah kebanggaan pemerintah Singapura ini, bahkan dibanding dengan jumlah sumbangan pengusaha yang berasal dari pengusaha Singapura sendiri. Kemudian perilaku Stephen Riady ini dilanjutkan oleh koleganya sesama konglomerat Indonesia yakni Tahir, Chairman of Mayapada Group dengan menyumbang $1 juta untuk NUS Business School pula.
Meskipun kita tak bisa mengatur atau mencegah setiap pengusaha atau siapa pun untuk membelanjakan uang yang dimilikinya apalagi dengan “cap sumbangan pendidikan” ke mana dia mau menyumbangnya. Namun kedua pengusaha Indonesia ini sepertinya tidak memiliki kepekaan atas penderitaan nyata rakyat Indonesia dimana mereka selama ini tinggal menghirup udara oksigen bersih Indonesia, dan menerima sinar matahari gratis sepanjang tahun serta makan nasi “pulen” dengan lauk pauk lezat dan air bersih Indonesia. Padahal mereka menjadi besar karena mencari duit di Indonesia. Eh, malah menyumbangkan keuntungan yang diraihnya untuk sekolah Singapura. Aduh!
Ketiadaan sensitifitas ini sangat-sangat disesalkan. Coba untuk waktu-waktu mendatang Stephen Ryadi dan Tahir bila berniat tulus untuk menyumbang beasiswa hendaknya meniru mantan Presiden RI ketiga, Prof.DR.Ing. BJ Habibie. Melalui BJ Habibie Center, semua gaji yang diperoleh BJ Habibie selama puluhan tahun bekerja untuk Rakyat Indonesia dan sebagian keuntungan royalti atas banyak invensinya yang berkelas dunia diberikannya pula sepenuhnya bagi siswa dan mahasiswa cerdas miskin Indonesia untuk bisa melanjutkan sekolah.
Di tengah berbagai kontroversi tentang perilaku konglomerat berikut, tetapi mereka tak mengabaikan prinsip kepekaan dan kepantasan dengan menyumbang pendidikan untuk Indonesia di Indonesia. Sampoerna Group misalnya menggandeng ITB yang merupakan perguruan tinggi nomor 90 terbaik untuk bidang Teknologi di Dunia versi the TIME HE QS (UK) untuk membangun dan mengembangkan MBA Sampoerna ITB agar berkelas dunia pula. Sampoerna Group membiayai penuh para mahasiswa cerdas miskin untuk menikmati kuliah dengan kualitas dunia. Atau Bakrie Group yang memberikan beasiswa penuh kepada para siswa cerdas miskin untuk sekolah gratis di Sekolah Bisnis Achmad Bakrie. Atau Tanoto Foundation yang memberikan beasiswa kepada banyak siswa dan mahasiswa cerdas miskin pada berbagai sekolah dan perguruan tinggi yang berada di Indonesia, bukan untuk sekolah yang berada di Singapura.
"CINTAILAH PRODUK-PRODUK INDONESIA"
Langganan:
Postingan (Atom)