Kamis, 19 November 2009

G A P T E K

Krisis pangan tidak hanya menjadi langganan negara-negara Afrika tetapi juga melanda sebagian besar negara di seluruh dunia. Indonesia juga tidak lepas dari masalah ini. Faktor utama penyebab krisis pangan antara lain banyaknya jumlah penduduk, rendahnya produksi panen dan kompetisi pangan.

Produksi rendah bukanlah fakta yang harus kita ragukan. Produksi beras nasional di tingkat petani masih tergolong rendah. Alasan utamanya karena petani kita "gaptek". kenapa gaptek? karena pemerintah yang terlibat dalam dunia pertanian juga gaptek. betapa tidak gaptek, untuk memenuhi tanggung jawab memberi makan 230juta penduduk, pemerintah masih mengandalkan "cangkul", how come?

Modernisasi pertanian di Indonesia berjalan sangat lambat. Transfer teknologi hampir tidak ada kecuali menjadi "sasaran" teknologi luar. bila hal ini terus berlangsung,selamanya petani akan menjadi object yang makin menjauhkan mereka dari harapan untuk hidup makmur.

Pertanian Indonesia seperti orang kebingungan untuk menentukan masa depannya di tengah-tengah dua pengaruh utama sistem pertanian saat ini. Di satu pihak Amerika dengan jor-joran mengajak dunia untuk mengadopsi sistem pertanian berteknologi tinggi dengan sistem bioteknologi dengan janji produksi tinggi namun beresiko terhadap lingkungan. Di lain pihak, teknologi Eropa mengajak kepada sistem pertanian yang sederhana yang lebih membumi namun setidaknya mensyaratkan adopsi mekanisasi.

Mana yang akan dipilih negara kita? Indonesia sepertinya menolak tegas ajakan Amerika tersebut walau secara diam-diam pemerintah mengijinkan negeri ini menjadi lokasi riset mereka (misalnya kasus kapas transgenik di sulawesi). Tawaran adopsi pertanian berwawasan lingkungan pun ditanggapi dengan ogah-ogahan oleh pemerintah walau pemerintah secara formal mencanangkan tahun 2009 (?) sebagai tahun pertanian organik. tetapi secara aktual kita tidak melihat langkah nyatanya.

Sampai saat ini negara kita masih belum memilih dari dua sistem diatas. Ada 3 jawaban yang mungkin menjadi alasan; pertama pemerintah terlalu berhati-hati, kedua pemerintah 'gaptek' kepada dua teknologi diatas, ketiga pemerintah tidak punya niat untuk memperbaiki sistem pertanian yang ada saat ini.

"Bimbang" sepertinya memang menjadi tradisi pemerintahan "Bambang". bisa jadi karna terlalu bijak hingga takut mengambil kebijakan yang salah. namun tidak adanya ketegasan juga bukan berarti mereka telah bertindak bijak. atau mungkin juga karena tradisi import beras masih menjadi sarapan manis bagi para pejabat ?

8 komentar:

  1. aku tak daftar jadi dosen gaptek nak nuw hehehe

    Pertamazzzzz

    BalasHapus
  2. gapteknya petani mungkin juga disebabkan gapteknya para pengambil kebijakan, mas luxsman. gimana tidak? lha wong traktor aja mahalnya ndak kepalang tanggung kok. belum lagi bbm-nya, bibit dan pupuk, dn masih banyak lagi. memang semuanya masih serba gaptek.

    BalasHapus
  3. walau secara diam-diam pemerintah mengijinkan

    kalo kata-kata itu, saia gak gaptek, kalo lainnya bolehlah kita pura-pura gaptek, nanti kalo ketahuan kan isa bilang, "Lho? Perbuatan seperti itu gak boleh ya?"

    BalasHapus
  4. saya banyak berkecimpung di urusan pertanian dan petani. saya rasa, petani dan pertanian di Indonesia harus kembali menggali kearifan lokal yang dulu pernah ada. Mekanisasi oke2 saja, tapi cara bertani harus diubah. Pemerintah seringkali salah kampanye seperti misalnya dengan panca usaha tani, intensifikasi pertanian, revolusi hijau dlsb yang ternyata pada jangka panjang membuat budaya bertani berubah total. Akibatnya, petani kehilangan banyak kemampuan untuk mengolah tanah, membuat bibit sendiri, dan lain sebagainya. Akhirnya, petani menjadi tergantung pada produk pabrikan baik pupuk maupun bibit. Ini yang membuat biaya tinggi pada pertanian yang akhirnya membuat hasil pertanian tidak bisa bersaing di pasaran.
    Salah siapa???

    BalasHapus
  5. Petaninya spertinya yang sudah nyaman "Nyangkul"..

    BalasHapus
  6. Tidak adanya generasi muda yang ahli dalam bidang pertanian ini dan bahkan banyak sarjana pertanian yang hanya mampu menjadi peneliti saja, serta tidak ada yang bisa menjadi aktor atau pinoneer - pioneer dalam perkembangan pertanian di negeri ini..akhirnya perkembangan pertanian di negeri kita ini terkesan lamban. Saya rasa kalo dibilang gaptek seh enggak, kenapa ?. Saya sendiri anak dari seorang petani, bapak saya bajak sawah sekarang juga udah pakai traktor..dan kebanyakan petani di daerah Pasuruan tidak ada lagi yang pakai cangkul..setahun bisa panen beras tiga kali. Alasannya bukan pada kegaptekan para petani tetapi lebih kepada harga gabah pasca panen, ini yang menjadi momok bagi para petani. Pada saat mereka sedang kerja keras mengolah dan menanam padi, harga - harga pupuk dan obat naik gila - gilaan. Bahkan untuk pupuk sering terjadi kelangkaan. Dan setelah giliran panen tiba, harga gabah turun drastis. Ini yang harus dipecahkan oleh pemerintah kita, bagaimana mengatasi hal ini. Ini lah yang menyebabkan petani menjadi malas untuk bertani, dan peluang ini sering kali diambil oleh para developer - developer bagunan untuk membeli sawah untuk dibangun komplek - komplek perumahan. Ini yang terjadi dibelakang rumah orang tua saya di Pasuruan, puluhan hektar tanah dijadikan perumahan. Padahal potensi pertanian di sana sangat bagus. Akan tetapi karena hasil panen tidak bisa dijadikan jaminan, hasil panen pun hanya untuk bertahan hidup. Coba saja jika hasil panen bisa dijual dengan harga yang bagus, saya kira banyak di negeri ini yang ingin menjadi petani..termasuk saya. Karena hasil tidak sesuai dengan kerja keras yang dilakukan makanya saya ogah jadi petani...hehe

    maaf om panjang comment nya...ini karena lebih kepada jeritan hati mewakili para petani di Pasuruan..

    BalasHapus
  7. memang petani kita masih gaptek tapi semoga anak-anak merak bisa melek teknologi yach... salam mas... luxsman berkunjung neh....

    BalasHapus