Sabtu, 29 Mei 2010

Jembatan Balerang @ Kep.Riau

Jembatan terpanjang ke-dua se-Indonesia

Use your precious moments to blog life fully every single second of every single day.

http://luxsman.blogspot.com/
http://luxsman.web.id/

-----
Powered K610i and TELKOMSEL

Posted via email from luxsman

Jumat, 28 Mei 2010

Minggu, 23 Mei 2010

Partai Pembokat

“Apa masih ada harapan? Si Libas, putera mahkota sudah jelas-jelas mendukung Bung Bagi Kelereng?” Tanya Jos, perwakilan partai dari ujung timur Negeri Opini. “Masih, Bung. Bung Nenas Nimbrung kan membangun partai ini sejak lama. Bung Masuki Kali juga pejuang dari awal partai berdiri. Kalau keputusan pemilihan nanti setengah n plus 1, maka bisa dipastikan kedua suara itu nanti bergabung untuk mengalahkan Bung Bagi si oportunis pragmatis.” Yakin si Diin, utusan Pulau Selatan bicara.

Ya, perdebatan sengit sedang berlangsung dan berkecamuk di hati para utusan daerah Partai Pembokat. Dari namanya, partai ini memang bertujuan melayani, membantu, berkorban demi kebahagiaan semua rakyat Republik Opini. Dengan jiwa pembokat, mereka bersedia meleleh bak lilin demi negeri ini, supaya negara bersinar dan terkenal di seluruh bumi. Di lubuk hati yang paling dalam mereka ingin memilih orang-orang yang berjuang dari awal, orang-orang perintis dan memiliki semangat melayani tanpa pamrih tinggi.

Tetapi karena partai ini juga terlalu mengandalkan figur ketua pembinanya, Presiden Susahnyo Dianioyo, maka mereka jadi takut setelah sang maestro tidak dapat terpilih lagi, tokoh penggantinya tidak memiliki pesona yang sama.Belakangan bergabung tokoh yang punya dana kuat, tim sukses dan jaringan luas, serta memiliki tim pembangun penciteraan yang canggih, bernama Bagi Kelereng. Partai Pembokat yang tadinya kecil, dapat dia tingkatkan penciteraannya dengan program-program populer menggunakan anggaran negara, tetapi diiringi penciteraan partai. Dan lambat laun rakyat mulai meninggalkan partai tradisional mereka dan mendukung Partai Pembokat, sehingga menjadi pemenang pemilu. Politik penciteraan ini begitu menjadi andalan partai, sehingga para petinggi Partai Pembokat, termasuk Presiden Susahnyo dan putera mahkotanya Libas merasa tak mungkin berhasil memenangkan apapun tanpa Bung Bagi Kelereng. Rasa hutang budi itu menjadi dilema.

“Tim survey dan pembentuk Opini Bung Bagi luar biasa, Pa. Tim itu mungkin saja bisa menghipnotis ikan di kolam untuk loncat ke penggorengan. Apapun bisa mereka atur dengan ilmu statistik dan logika serta pengolahan data yang canggih.” Ujar Libas, meyakinkan Susahnyo. “Bagaimana pionir-pionir partai? Mereka bisa kecewa kalau kau terlihat memihak?” Tanya Presiden Susahnyo Dianioyo sedih. “Papa inginnya keluarga besar kita terlihat netral. Kamu duduk manis, jangan terlihat terlalu mendukung Bung Bagi.”

“Tidak bisa, Pa. Bung Bagi kelereng bilang, dia takkan menang tanpa dukungan yang frontal dari keluarga kita. Dia baru bergabung di Partai Pembokat belakangan, dan utusan partai di daerah kebanyakan orang-orang lama yang tidak suka politikus oportunis. Kalau dia kalah, dan keluar dari partai, penciteraan kita akan jatuh!!!” Libas pun pergi dengan keputusan tetap, penciteraan partai harus didahulukan di atas loyalitas.

Bung Libas, si putera mahkota pun terlibat dalam deklarasi Bung Bagi sebagai calon Partai Pembokat 1 di bulan April 2010. Tepuk tangan riuh mewarnai deklarasi itu, walau tetap ada keraguan, apakah semua yang bertepuk akan mencoblos namanya juga? Bung Nenas Nimbrung dengan elegan tetap membina dukungan dari utusan daerah cukup dengan SMS “Mari berjuang bak pembokat. Melayani tanpa kenal lelah, apa pun pendapat rakyat kita terima, yang penting kita melebur melayani mereka. Citra itu nomor dua. Melayani yang utama.” SMS ini cukup efektif, 393 pimpinan daerah dari 610 hak suara menyatakan mendukung. Malah ada yang SMS balik, “ Kami mendukungmu Bung Nenas, Citra itu hanya piala di layar lebar. Kami butuh pemimpin yang melayani, bukan yang mencitrai...”

Lain lagi Bung Masuki Kali, dia mengumpulkan semua utusan daerah yang mendukungnya di hotel bintang lima, “ Kita sudah merintis partai ini dari awal. Susah senang, manis pahit kita alami bersama. Saya tidak yakin menang, tapi kalaupun ada pemilihan 2 besar, satu pesan saya: ABK! ASAL BUKAN BAGI KELERENG!!!” Dan tepuk tangan riuh terdengar di ruangan VVIP room tersebut. Dan bla-bla-bla, seperti kongres-kongres partai lainnya, 3 hari pertama hanya perdebatan unjuk gigi orang-orang utusan daerah. Semua pintar omong, dan karena semua maunya saling mempengaruhi, ujung-ujungnya semua keputusan harus voting, tak pernah ada yang bisa dimusyawarahkan.

Akhir dari sebuah kongres ujung-ujungnya pemilihan ketua umum. Nego sana-nego sini gencar dilakukan. Pemilihan pertama, Bung Masuki Kali kalah, hanya didukung 123 suara, Nenas 213 dan Bagi 242. Sesuai aturan setengah n plus 1, maka Bung Nenas Nimbrung dan Bung Bagi Kelereng yang akan masuk putaran kedua. Tapi itu yang membuat putera mahkota cemas, SLOGAN ABK. Bagaimana kalau semua suara Masuki Kali mendukung Nenas? Dia yang sudah pasang badan mendukung Bung Bagi akan kalah muka, dan dia akan dikenal sebagai the looser. Padahal sang Papa, Presiden Susahnyo Dianioyo dikenal sebagai politikus ulung, Sang Pemenang. Sedangkan dia, di umur semuda ini, bakal jadi pecundang.

Menjelang pemilihan ketua umum partai putaran kedua, stress tinggi sudah membuat muka sang putera mahkota merengut, tampak lebih tua 15 tahun dari usianya. Penyakit gastritis kronisnya menjadi akut karena stress, ditambah lagi dia gak nafsu makan karena memikirkan akan jadi pihak yang kalah. “Benar kata Papa. Aku jangan terlalu memihak. Apalah jadinya dapat gelar pecundang di usia begitu muda?”

Dan di hari ke 5, pemilihan puncak ketua umum, terjadilah peristiwa bersejarah itu. Setelah aturan pemilihan diumumkan, lalu disetujui forum, maka mulailah pengambilan hak suara. Setelah semua utusan masuk ke bilik, dimulailah membacakan hasil votting. Dan sialnya, 5 suara pertama mendukung Bung Nenas.

“Nenas!” Ujar pembaca surat suara. BRUKKKKK!!!GEDEBUK!!. Semua peserta kongres memandang ke depan ke arah Libas, dia ambruk dari kursinya dan pingsan. Semua heboh, maju ke mimbar berusaha menolong Libas. Dia digotong dan diinfus dirumah sakit. Sepanjang perjalanan di ambulance dia mengigau, “Aku bukan pecundang! Aku bukan pecundang!”

Sidang yang diskors 3 jam akhirnya dilanjutkan oleh Presiden. “Begini, apa pun hasilnya voting ini membuat Libas puteraku stress berat. Bagaimana kalau kita selesaikan saja, kedua calon Bung Nenas Nimbrung dan Bung Bagi Kelereng memimpin bersama Partai Pembokat selama 1 tahun ke depan dalam kepemimpinan kolegial. Setelah Libas bisa mengatasi stressnya, baru kita adu lagi. Setuju?” Tanya sang pembina Prsiden Susahnyo Dianioyo.

“Setuju!!!!” Sambut semua peserta bertepuk tangan dan bersalam-salaman.

Demokrasi yang aneh? Memang selalu ada fatamorgana dalam demokrasi, terutama yang masih memakai pola kultus-kultus-an dan citra-citraan. Dan sang putera mahkota Libas, ternyata baru siap untuk menang dalam berdemokrasi, tetapi belum siap untuk kalah. Atau tepatnya, Otak Libas sudah siap berdemokrasi tapi lambungnya tak kuat....

Si Libas terlibas...

Minggu, 16 Mei 2010

Logo Baru PDIP

copas dari milist tetangga, milist tetangga copas dari twitter, "si moncong putih gak laku lagi, sekarang bathuk putih"

Blog is not a thing, it is a way. Use your precious moments to blog life fully every single second of every single day. In the name of BLOG in heaven. Amin....
------------------------------------------------------------
Regard
Luqman Kumara a.k.a luxsman
+6281231131000
visit : http://luxsman.blogspot.com and http://luxsman.web.id/

Posted via email from luxsman

Sabtu, 15 Mei 2010

Penyeberangan Sungai Siak

untuk menuju kota siak sri indrapura kita harus naik ferry yang membelah sungai siak, sungai terdalam di idonesia. Waktu untuk menyebrang tidak lama, cukup 5 menit. Yang lama adalah waktu menunggu kapal ferry penuh.

Use your precious moments to blog life fully every single second of every single day.

http://luxsman.blogspot.com/
http://luxsman.web.id/

-----
Powered K610i and TELKOMSEL

Posted via email from luxsman

Kamis, 13 Mei 2010

Lambe Turah

Sari nyangklong tas kesusu metu seka kelase, karepe mana atene ndekem nang kantin. Ate mulih aras-arasen, apamaneh jam loro mengko ana kuliah tambahan. Sari kuwi arek semester loro fakultas sastra Inggris, Universitas Ngayawara.

Ujug-ujug saka sisih kiwa, meh ae nabrak Anang, arek fakultas ekonomi. Arek kuwi kuru dhukur, senengane dodolan gombal ambek arek-arek wedhok ing kampuse. "Dancuuk!" batinne Sari.

"Eh... Hallo darling!" sapane Anang kalem, raine plek kaya boyo, congore lincip lan untune mrongos ngana kae.

Sari ngeblas mlaku, ora ngreken arek sithok elek kuwi.

"Sar, mbiyen-mbiyen aku akeh salah, akeh nebar kata-kata gombal ma sembarang orang. Sering bikin nangis cewek. Tapi setelah kenal kamu, aku saiki insaf," jarene ngethokke jurus boyone.

"Baguslah," jawabe Sari enteng wae.

"Ora ate nebar pesona neh ambek cewek lewat cara apapun. Kasihan juga kalau akhirnya pada sakit hatinya gara-gara tak gombali, " ujare Anang.

"Wo wedhus!" batinne Sari. Lha wong rai kaya boyo wae kok olehe ingah-ingih pamer mrongose. Iki uwong apa bethara kala?

"Tapi dasar aku!" ujare Anang.

Sari mendeg saknalika. Nyawang Anang, eneg. Meh wae Sari muntah. "Wong iki wes elek, kok doyan men nyocot, lambene turah men," batinne Sari maneh.

"Tapi dasar aku, niat-niat thok, ra onok nyatane," jare Anang karo mesam-mesem sing malah gawe raine tambah uelek.

"Yek apa carane katene isa mari iki?" pitakone Anang karo ngucek-ucek matane. Blobok kuning sak kedele gedene nganti metu, jan njijiki tenan!

Sari unjal ambegan.

"Wis watakmu kok Nang, ate piye neh," jawabe Sari karo neruske laku.

"Eh, buruan nikah, mungkin bisa hentikan kebiasaan jelekku," jare Anang.

"Ya rabi a ambek bajul kana!" saure Sari ing jeron ati.

"Wis watakmu Nang. Nek watuk isa dimareni, nek watak ki nganti tuwa ya panggah wae," jawabe Sari alus. Arek siji iki cen pinter lan atine apik, najan ing batinne misuh-misuh ora karuwan ning kata-katanya selalu halus dan penuh perhitungan.

"Mosok se?" Emange wong ki stagnan, ra isa brubah?" takone Anang.

"Wong Jawa sering ngomong, ciri wanci ginawa tumekaning pati," jare Sari.

"Ah mosok se? Bisa aja orang yang ga bener jadi baik. Iya khan?"

"Artine suatu watak dasar manusia itu sampai matipun sama. Tapi embuhlah, gak eruh aku," jare Sari.

"Lha iku nek sifat-sifat turunan, gen!" bengokke Anang.

"Lha menawa kuwi ya sifat turunanmu," jare Sari kalem.

"Kon iku ngawur ae!" bengoke Anang saya banter.

"Lha buktine kon mau ngomong dhewe nek "niat-niat thok, ra onok nyatane,"

"Lha wingi sasi poso wes mari je, lha dino iki wes kumat neh,"

"Poso rak ngempet kuwi,"

"Apa tak poso ben dina ae ya Sar,"

"Ra ana bedhane Nang, watakmu wes ngono kuwi kok,"

"Ah, kon iku malah nambah-nambahi rasa bersalahku thok ae," kandhane Anang karo ngelus-elus githok e.

"Nek krasa bersalah berarti khan bener. Jadi semakin kuat alibi nek kon iku cen kelakuane ya kaya ngono kuwi,"

"Mbok aku ditulungi Sar. Nglarakke atine wong ki dosa gedhe. Moh aku nek duwe watak elek kuwi. Gek ndang tak mari mumpung iki isih sasi Syawal. Piye carane Sar?"

Sari unjal ambegan. Nyelehke bokonge ning kursi pojok kantin sing isih sepi. Atine muntab.

"Mbak es degan satu ya!" bengokke Sari. Muga-muga wae es degan kuwi isa ngedemke atiku, batinne Sari. Sari unjal ambegan maneh.

Mbak Dewi bakul ndok kantin kuwi langsung iwut tangane gawe es degan, sedela wae dhek e wes inthik-inthik nyedhaki mejane Sari lan Anang nggawa es degan. Es degan durung wae diselehne meja, wes disaut Anang. Boyo sithok kuwi tanpa dosa trus nyruput es degan kuwi, mari ngono es degan kuwi trus disurung ngarepe Sari. Sari bola-bali unjal ambegan. "Dancuuk! Dasar boyo rai gedhek!" bengokke Sari ing jero ati.

"Golek tampar nem meter," jare Sari karo nyawang Anang tajem, sing disawang kedhep-kedhep. Ancene nggatheli cah kuwi.

"Trus?"

"Talenana ngisore wit pelem,"

"Ate digawe apa Sar? Ngrubuhke pelem ta?" pitakone Anang polos.

"Ya up to you, terserah. Ate digawe lompat tali ya mangga, ate digawe latihan panjat pelem ya enthuk, ate digawe kendhat ya silahkan. Sembaranglah," jare Sari rada emosi.

"Tambah ngawur ae kon iku. Tidak ada kasus lelara isa mari merga tali tampar. Ah jangan bercanda kalau dimintai saran Sar," gremenge Anang.

"Lho, iki model baru kok. Sapa ngerti kon sing dadi penemu pertamane,"

"Sar, anu... Mungkin lebih baik kalau kon rabi wae ambek aku, aku yakin pasti kon isa merubah sifatku. Ben mari elekku. Nek wes duwe bojo mesthi mari gombalku," jare Anang serius.

"Jabang bayiii..! Nganti donya iki ate kukut and you are the only one man, aku gak ate rabi ambek kon Nang!" bengokke Sari emosi. Sari ngadeg lan ninggal Anang nok jero kantin dhewekan.

"Jangan begitu Sar. Saar..! Es degannya belum dibayar!" bengokke Anang.

"Sing ngombe rak kon ta, bayaren dewe. Aku atene mulih," jare Sari getem-getem. Sari wes ra duwe semangat maneh melu kuliah tambahan jam loro mengko, age-age nyetop microlet kuning lan sedela wae ninggal papan kuliahe.

Minggu, 02 Mei 2010

Proses Pembuatan Pulp dan Kertas

Gambaran secara umum dari pembuatan pulp dan kertas yang saya dapatkan
dari field trip.

01. Kayu yang berumur kira-kira 6 - 10 bulan dipotong dari hutan
konservasi dan dikirim ke pabrik sebagai bahan baku dari pulp dan
kertas.
02. Kayu potongan kemudian dikeringkan secara alami di yard selama 2 -
4 bulan untuk mengurangi kadar air dalam kayu dan mengeringkan kulit
kayu.
03. Kayu kering dari yard kemudian dibuang kulit dan kotoran yang
memenpel dan selanjutnya dipotong kecil-kecil (chipping process) dan
hasilnya disebut chips.
04. Chips kemudian dibawa ke tempat pembuatan pulp atau bubur kertas.
05. Proses selanjutnya adalah pemasakan pulp, dimana tujuan utama dari
proses ini adalah melepaskan serat bebas dan menyiapkan pulp untuk
digunakan dalam proses pembuatan kertas / paper.
06 dan 07. Pulp yang telah jadi, jenis dari pulp ini adalah dry pulp
08 dan 09. Wet Pulp dari mesin Pulp kemudian diolah kembali di mesin
paper untuk menghasilkan kertas roll panjang dengan bantuan campuran
bahan kimia.
10. Hasil dari proses 09 diperoleh kertas degan ukuran sangat besar
dengan berat 50 ton.
11. Untuk memudahkan pengemasan, kertas kemudian digulung lagi dan
dipotong dengan ukuran yang lebih kecil dengan berat 1 roll kecil
sekitar 1 ton.
12. Proses pemotongan kertas roll menjadi ukuran A3, A4, F4, etc,
kemudian dikemas sesuai merk dan siap untuk dikirim.

Penasaran dengan proses yang lebih dalam, tunggu tulisan terbaru dari saya...

Posted via email from luxsman

Sabtu, 01 Mei 2010

Heroisme Abad 21

BULAN Mei tahun ini bagi Indonesia tidak sekadar gempita Kebangkitan Nasional. Mei tahun ini sangat istimewa. Ia adalah juga 12 Tahun Reformasi. Hari Buruh Internasional. Hari ini 2 Mei bahkan hari Pendidikan Nasional yang diperingati di mana-mana. Mei yang istimewa ini tentu tidak lepas dari satu kata : Pahlawan.

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mengenang pahlawan? Apakah dengan memandang deretan gambar setengah badan di dinding sekolah yang diterakan nama besar di bawahnya, lantas menimbulkan decak kagum, sembari berharap, ” Tuhan, jadikan aku seperti beliau”. Gambar-gambar itu seolah saksi bisu tentang keterasingan. Pada jamannya orang rela menyerahkan miliknya bagi kepentingan perjuangan bangsa yang dihembuskan oleh pahlawan. Apakah mengenang pahlawan juga mengingatkan kita pada heroisme yang dibangunnya manakala ia berjuang melawan kesewenang-wenangan dan kelaliman?

Tiap bangsa terjajah pasti mempunyai pahlawan. Nama mereka begitu lekat di hati rakyat, utamanya di daerah asal sang pahlawan. Mengingat pahlawan berarti mengingat keberanian melawan despotisme kaum kolonial. Mengingat pahlawan sama dan sebangun dengan mengenang orang kecil melawan orang besar, orang ”lemah” melawan orang kuat.

Cerita kepahlawanan akhirnya mempertautkan kondisi sekarang dengan masa lalu. Betapa jarak puluhan bahkan ratusan tahun, terasa jadi dekat. Dalam memori kita terbayang heroisme tiada putus yang mengendap dalam sanubari seorang Christina Martatiahohu, AA Maramis, Rasuna said, atau Bung Tomo dan beberapa nama lain, yang ditulis dengan tinta emas sejarah Indonesia.

Mengenang pahlawan bagai mengenang keberanian yang secara tulus diperjuangkan tanpa tuntutan atau imbalan apa pun. Sebuah instrumen kemanusiaan yang barangkali kini tinggal serpih kenangan belaka. Sebab di jaman ini, keberanian sering dianalogikan sebagai kekonyolan atau ketidaklayakan. Heroisme kini seperti catatan fiksi.

Cerita fiksi dalam dunia kanak-kanak kita, biasa memasukan sosok pahlawan sebagai pemberani sekaligus pembebas suku bangsa tertentu dari tekanan para penindas. Sosok itu umumnya berusia muda, berparas cantik dan gagah, serta rela mengorbankan dirinya demi kepentingan orang banyak. Pahlawan dalam dunia fiksi menyeret anak-anak kepada suatu tahap imajinasi untuk mengembangkan elemen kreatifitasnya. Dengan kata lain membaca, menyimak, dan mengendapkan cerita kepahlawanan dapat menstimulasi anak dapat berbuat mulia sebagaimana dicontohkan sang pahlawan.

Pahlawan dalam berbagai cerita fiksi setidaknya mempertautkan sejumput heroisme kepada pembacanya. Hans Christian Andersen, Enid Blyton, atau Karl May berhasil memberikan sumbangan semangat kepahlawanan bagi pembacanya. Kontribusi mereka tak pelak merangsang anak melakukan tindakan terpuji meski harus mengalami kepahitan dan tekanan lawan.

Citra pahlawan dalam dunia fiksi adalah semacam pertalian budaya yang dihantarkan untuk menanamkan sikap pembelaan diri atas kesewenangan kaum penindas. Perkelahian dan peperangan yang hadir di dalamnya, bukanlah semata-mata karena ia haus kekerasan, darah, dan kemenangan melalui pedang atau senapan. Melainkan sebuah upaya pertahanan diri untuk tujuan mulia. Bukankah ciri menonjol kepahlawanan adalah keberanian? Letaknya pada keberanian. Berani karena benar. Meminjam sastrawan William Shakespeare, pahlawan mati hanya satu kali tetapi pengecut mati berkali-kali.

Pahlawan memang hanya mati satu kali, karena itulah yang diperjuangkannya dan dipertaruhkan dengan utuh dan tanpa ragu. Kebenaran yang dibelanya merupakan harga mati.

Persoalannya kemudian, haruskah ada pahlawan di zaman kini? Masih perlukah pahlawan di zaman yang carut marut ini, ketika atas nama globalisasi manusia digiring oleh kaum kapitalis menuju satu kesamaan? Sosok Pahlawan sering dikaitkan dengan jasanya memperjuangkan kemerdekaan bagi negara ini. Pengertian ini sepertinya sama saja di setiap negara. Lantas ketika kita menginjak masa sekolah, kita mulai berkenalan dengan sosok Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Guru yang mengajari kita bagaimana menulis dan membaca serta yang lainnya, adalah sosok pejuang yang telah membebaskan kita dari belenggu kebodohan. Merekalah pahlawan itu, yang selain tanpa tanda jasa juga tanpa taman makam pahlawan.

Dialog Andreas dengan gurunya Galileo Galilei sebagaimana ditulis Berthold Brecht dalam sepenggal dramanya, menyoal pahlawan menandakan adanya perbedaan titik pandang. Ketika Andreas berkata, “unhappy, the land does no a hero”, (celaka, bangsa yang tidak mempunyai pahlawan), Galileo menjawab, “unhappy, the land needs a hero”, (celaka, bangsa yang memerlukan pahlawan).

Pernyataan Andreas menandaskan suatu keadaan pada sebuah negeri yang banyak dihuni oleh para pengecut. Ke mana pun ia melangkah, sikap kepengecutan teramat biasa terjadi. Dalam situasi seperti itu ia merindukan sosok pahlawan untuk menghentikan serta meniadakan kepengecutan. Sementara jawaban sang guru lebih menekankan kepada suatu keteraturan masyarakat dengan kesadaran budayanya, sehingga kepengecutan tidak mendapat tempat dalam masyarakat.

Betapa pun abstraknya, setiap masyarakat atau bangsa selalu menyanjung para pahlawannya. Biografi pahlawan akhirnya sering dibukukan untuk mengilhami penulisan novel-novel sejarah yang tidak mustahil diangkat ke layar lebar dalam pita seluloid, demikian pula untuk menciptakan lagu-lagu perjuangan. Akan tetapi kultus individu itulah yang nampaknya ditolak oleh Galileo. Bahwa suatu masyarakat yang membutuhkan pahlawan, tersirat keinginan tak sengaja untuk mengkultuskan seorang pahlawan. Karena pahlawan yang didambakan itu harus mampu menyelesaikan kepengecutan di masyarakat.

Pahlawan kerap jadi bagian kesadaran budaya suatu bangsa, kesadaran tentang perlunya pemahaman objektif atas masa lampau sekaligus kesadaran pentingnya memiliki dan memelihara symbol-simbol kebesaran masa lampau suatu bangsa. Di sinilah barangkali perlunya cerita-cerita kepahlawanan bagi suatu bangsa.

Namun simbol kepahlawanan bisa berubah menjadi mitos, ketika simbol itu dijadikan sebagai sesuatu yang sangat penting serta mengabaikan fakta-fakta histories. Simbol berubah jadi mitos (dan bersifat abstrak) jika cerita kepahlawanan disandarkan pada kepentingan kultus.

Pahlawan mengalami dekonstruksi nilai karena pengaruh kepentingan politik atau status sosial di masyarakat. Tidak aneh jika seorang jendral berbintang atau orang ternama ketika mengungkap genealoginya, mencangkokan nama seorang pahlawan pada suatu masa. Biasa juga dinisbatkan pada seorang raja pada masa kerajaan Hindu Jawa. Gejala yang menimpa masyarakat Jawa khususnya, setidaknya susah mengelak untuk menjelaskan perlunya seorang pahlawan yang merangkai silsilah dirinya.

Pada kondisi ini, pahlawan yang semula jadi simbol sebuah perjuangan dan kebenaran, berubah jadi mitos. Dan dengan demikian pahlawan berakhir hanya pada sebuah cerita fiksi. Kini, mungkin saja sosok pahlawan telah hadir kembali dalam dunia dewasa kita dan jatuh kepada bagian mitologi (fiksi, abstraksi) dari kesadaran budaya kita.

Kebenaran yang diperjuangkan pahlawan serta keberanian yang ditampilkannya sebagaimana mitologi dan fiksi, menjadi dambaan kesadaran budaya kita yang (boleh jadi) cukup jauh dari nilai kebenaran dan keberanian. Maka ditempuhlah jalan mudah secara mengaitkan asal usul kita kepada seorang pahlawan. Apalagi tujuannya selain untuk memperoleh simpati masyarakat, kekaguman dan status sosial, bahwa kita tidak lain adalah keturunan kesekian seorang pahlawan.

Padahal sesungguhnya upaya merangkai genealogi kita kepada seorang pahlawan tidak lain merupakan sepenggal sikap pengecut atau ketidakberanian menyatakan fakta hostoris yang objektif mengenai asal usul kita. Beranjak dari pemikiran ini, apakah pahlawan hanya milik orang ternama dan berpengaruh saja?

Dekonstruksi pahlawan dari kenyataan objektif sejarah menjadi mitos dan fiksi itu hanya layak terjadi pada suatu masa tatkala kedudukan seseorang di masyarakat amat ditentukan oleh kebesaran nama leluhurnya. Secara psikologis, orang yang biasa menyandarkan diri kepada leluhurnya adalah orang yang tak siap berkompetisi meraih kedudukan. Mereka hanya kagum dan terpenjara pada kebanggaan masa lalu. Kekaguman dan kebanggaan semu yang sebenarnya tidak ia amati. Kebanggaan itu bukan ia jalani, namun sekadar disodorkan kepada khalayak.

Jika sikap demikian terpatri, apa bedanya kita dengan anak-anak ketika mendengar, membaca, dan menyimak kisah pahlawan? Pahlawan berikut perjuangan yang dipersembahkan bagi bangsanya bukan semata-mata untuk mencipta kebanggaan. Akan tetapi ia mewariskan keberanian membela kebenaran dengan segala risikonya. Nilai itu menjadi nilai yang sah suatu bangsa, bukan milik sekumpulan keluarga.

Kini jumlah pahlawan melonjak. Dari arena olah raga, dunia musik dan film, tak pelak melahirkan pahlawan yang dominan oleh rasionalitas teknologi. Pahlawan yang sesungguhnya, pahlawan yang dilahirkan untuk berperan dalam sejarah dan perubahan suatu bangsa, makin sedikit jumlahnya.

Begitu jauhkah kita dari semangat kepahlawanan? Hormatkah kita kepada pahlawan bila hanya mewarisi kekaguman perjuangannya? 10 Nopember setiap tahun kita peringati Hari Pahlawan. Bermula dari perjuangan yang tak kenal takut di Surabaya 1945, kita jadikan momentum sejarah dan fakta historis.

Mitologi, fiksi, abstraksi dengan demikian merupakan dekonstruksi pahlawan. Jika sudah demikian, jangan-jangan dari kuburnya yang damai, Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Soedirman, dan semua pahlawan berkata, “Sia-sia aku menjadi founding father bangsa ini apabila sekadar dijadikan rasa kagum serta kebanggaan saja”.