Minggu, 14 November 2010

Dualisme Idul Adha

Sebagai muslim, yang kebetulan merayakan Idul Adha pada bulan ini, sedih rasanya melihat umat Islam di Indonesia menjadi terkotak-kotak. Masing-masing saling membanggakan atribut yang dikenakan, apakah itu Muhamadiyah, NU, HT atau lainnya. Sudah tidak terhitung lagi perselisihan mengenai penetapan hari lebaran, baik Idul Fitri maupun Idul Adha dalam beberapa tahun ini, juga sikap pemerintah (MUI, Menteri Agama) yang plin-plan, yang masih mudah untuk disetir oleh berbagai kepentingan, terutama kepentingan politik.

Satu hal yang sangat mengganjal saya adalah penetapan Idul Adha. Jika pada penetapan jatuhnya Idul Fitri, terjadi selisih paham antara satu golongan melihat bulan dengan satu golongan yang menghitung berdasarkan hisab, semestinya perselisihan seperti itu tidak akan terjadi untuk Idul Adha. Karena untuk Idul Adha, sangatlah sederhana. Idul Adha terjadi pada saat bulan Dzulhijjah, di saat umat Islam menunaikan ibadah haji. Jadi kita secara otomatis kita mengacu ke Mekkah. Jika di Mekkah, umat Islam sedang melakukan wukuf - maka hari itu adalah tanggal 9 Dzulhijjah 1431 H, dimana kita dianjurkan untuk melakukan puasa Arafah - dan untuk tahun ini bertepatan dengan tanggal 15 Nopember 2010 M. Dan keesokan harinya adalah tanggal 10 Dzulhijjah 1431 H- Idul Adha - yang bertepatan dengan tanggal 16 Nopember 2010 M.

Hal yang aneh adalah jika perbedaan waktu antara Arab Saudi dengan Indonesia adalah 4 jam, dimana waktu Indonesia lebih cepat daripada Arab Saudi, secara logika - Bagaimana mungkin Arab Saudi menetapkan tanggal 10 Dzulhijjah pada 16 Nopember 2010 dan Indonesia menetapkan Idul Adha pada keesokan harinya??!

Kalau menurut saya (yang pastinya sangat memiliki keterbatasan dalam hal ilmu agama) - semestinya pemerintah (MUI, Menteri Agama) - sebagai Ulil Amri dapat bersikap tegas dan bijaksana dalam menjembatani hal ini. Karena, nanti akan banyak umat Islam yang menjalankan puasa Arafah berbeda hari, padahal 10 Dzulhijjah jatuh pada 16 Nopember 2010. Sedangkan berpuasa pada dua hari raya (Idul Fitri & Idul Adha) serta hari tasyrik adalah haram hukumnya. Bahkan menurut salah satu riwayat, puasa pada hari yang diragukan (apakah sudah memasuki 1 syawal atau 10 dzulhijjah) adalah haram hukumnya. Sedangkan untuk sholat Idul Adha, hukumnya adalah sunnah - dapat dilaksanakan di tanggal 11 Dzulhijjah. Adapun dilakukan secara berjamaah adalah menjadi syiar bagi umat muslim untuk menunjukkan betapa kuatnya jalinan ukhuwah islamiyah.

Semestinya pemerintah, bisa bersikap tegas, lugas dan bijaksana dalam memberikan penjelasan kepada umat Islam akan hal ini.

Posted via email from luxsman

11 komentar:

  1. menurut sepemahamanku menjalankan islam tidak sepenuhnya bisa dilogika. jika sumber syarinya ada otomatis bisa menggugurkan logika, karena bagaimanapun logika manusia tentu berbeda dengan logika Nya.

    Dalam satu negara, dengan kontur tanah, geografis yang berbeda akan menghasilkan penetapan lebaran yg berbeda. karena dasarnya memang dengan hilal (tampaknya bulan), bukan dengan hitungan (hisab) / prakiraan.

    Beda kasus beda hukum, contohnya adalah:
    - sekarang adalah waktu maghrib di Arab, maka 4 jam kemudian di Indonesia otomatis memang adzan magrib, karena perbedaan waktunya 4 jam.


    - sekarang di Arab masuk lebaran karena hilal sudah tampak. tapi di indonesia bulan tidak tampak, mungkin karena mendung, atau rusaknya alat. kasus tersebut sudah pernah disebut dalam hadist sehingga harus diistiqmalkan yakni disempurnakan 30 hari. meski secara teori/logika beda waktu sebenarnya 4 jam.

    Jadi begitu permisalannya. Yang menetapkan tgl 17 karna tidak ada yang berhasil melihat bulan dibatas akhir bulan kemarin. Dan penetapan lebaran bersifat lokal, tidak bergantung dengan penetapan daerah lain. Yang menetapkan tanggal 16 seperti muhamadiyah bukan karena rukyah, tapi karena hisab. HTI indonesia menetapkan tgl 16 bukan karena hisab tapi mengikuti pusat jamaahnya sana, ntah di libanon atau pakistan ga tahu pasti.

    Saran: untuk ibadah yg sifatnya jamak, ikutilah jumhur ulama setempat, dimana mayoritas ulama di Indonesia menetapkan tgl 17. Jadi sholat Id ikut tanggal 17. dan waktu tasriknya adalah 18,19, dan 20.
    Sedang untuk ibadah yg sifatnya privat (hanya diri dan Allah yg tahu) seperti puasa arafah, sesuaikan dengan waktu di arafah, yakni tgl 15.

    Ini bukan plin-plan tapi mengedepankan sifat wira'i atau kehatian-hatian.

    BalasHapus
  2. menurut saya benar 10 Dzulhijjah jatuh pada 16 Nopember 2010. Karena menurut informasi jama'ah haji yg ada di sana, bahwasanya 15 november 2010 akan melaksanakan wuquf di arafah, saya setuju dengan luxsman. untuk novi cuk, memang benar islam tidak sepenuhnya berpegangan dengan logika, dan islam mengharuskan agar segala sesuatu itu berdasarkan ilmu. nah, jika informasi jama'ah yang ada di arab menginformasikan bahwa 15 november 2010 akan melaksanakn wuquf tidak ada alasan lain bahwa 10 Dzulhijjah jatuh pada 16 Nopember 2010.

    BalasHapus
  3. ah mas luxman templatemu yahud abis mas...
    eh tapi aku gak komentar teamplate aja si...tapi yawda ah kapan2 aja koment banyak...sekarang segini aja *di keplak mas luxman*

    BalasHapus
  4. Ngawur iki omongane b43r. ckckckckck

    ah mas luxman templatemu yahud abis mas...
    eh tapi aku gak komentar teamplate aja si...tapi yawda ah kapan2 aja koment banyak...sekarang segini aja *di keplak mas luxman*


    Yang pasti Anas manut dimana masjid tempat Anas berada. Wong ilmu agama saya sik cupu.

    BalasHapus
  5. @lee futhu,
    yang saya maksud disini adalah penetapan lebaran, bukan soal waktu wuquf. jika arab menjadi sentral tentu tak perlu lagi setiap daerah / negara melakukan rukyat sendiri-sendiri. cukup menarik garis waktu dari negeri arab tersebut (secara logika).
    tapi karena penetapan lebaran menurut jumhur ulama sifatnya lokal(masing2 wilayah) maka setiap daerah tak perlu menyesuaikan dengan waktu negara lain. Itulah kekhususan lebaran terkait waktu tetapnya. Dimana ketinggian tanah juga menjadi faktor, tak hanya garis bujur/lintang saja sebagai patokan logika waktu. setidaknya itu yang saya pahami.

    Sebagai penguat bisa liat fakta berikut:
    http://bandung.detik.com/read/2010/11/14/190445/1494076/486/hasil-pengamatan-bosscha-idul-adha-jatuh-pada-17-november?881104485

    Jika anda baca, bisa disimpulkan bahwa mereka mengamati hilal tgl 6 Nov masih belum memenuhi kriteria syarat bergantinya waktu. Dan mereka bukan dari kementerian agama, tapi pengamatan langsung dari Observatorium Bosscha.

    Jadi jika kita mau puasa arafah waktunya disesuaikan dengan waktu wuquf di Arafah (Sesuai dengan namanya, bahwa puasa Arafah adalah puasa yang dilakukan ketika jama’ah haji melakukan wukuf di Arafah.), namun jika lebaran disesuaikan dengan waktu lokal atau berdasar pemerintah setempat (Dengan mengikuti pemerintah, syi’ar kebersamaan umat Islam di suatu negara akan lebih terjaga, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Rasulullah:
    “Berpuasa (adalah dilakukan di) hari kalian semua berpuasa, beridul fithri (adalah dilakukan di) hari kalian beridul fithri, dan beridul adha (adalah dilakukan di) kalian beridul adha (melakukan penyembelihan).” [HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullah]

    BalasHapus
  6. Mau idul adha tanggal 16 atau 17 boleh2 saja. Ini bukan salah kita. Salahkan saja pemerintah yg tdk tegas itu. Saya sebagai rakyat sipil yang (sangat) awam dengan perhitungan bintang spt itu kan bisanya cuman ngikut salah satu doang....

    Pokoknya piss lah, hehehehe....
    Mbeeeeek :)

    BalasHapus
  7. Artikel dan blognya bagus juga, komentar juga ya ke blog saya www.infonotesharian.blogspot.com

    BalasHapus
  8. MAs, bukan maksud menggurui, alangkah baiknya kita belajar sebagai pemuda islam yang kritis dan ilmiah. Ini ada artikel referensi http://bit.ly/bXlx5n

    BalasHapus
  9. @all baca artikel ini juga ya? hehehe http://bit.ly/bXlx5n makasih.. Ini pendapat para astronom.

    BalasHapus