Minggu, 07 Februari 2010

Tahun Baru Imlek Bukan Hari Raya Agama

Tak banyak orang yang tahu, kalau Tahun Baru Imlek bukan merupakan hari raya agama, seperti Idul Fitri ataupun Natal. Perayaan yang setiap tahunnya diperingati oleh semua etnis Tionghoa di seluruh dunia, tak lebih dari sekedar perayaan ucapan syukur, seperti Thanksgiving Day di Amerika.


Tahun Baru Imlek adalah salah satu hari raya Tionghoa tradisional, yang dirayakan pada hari pertama dalam bulan pertama kalender Tionghoa, jatuh pada hari terjadinya bulan baru kedua setelah hari terjadinya hari terpendek musim dingin (Latin: solstitium => bahasa Inggris: solstice). Namun, jika ada bulan kabisat kesebelas atau kedua belas menuju tahun baru, tahun baru Imlek akan jatuh pada bulan ketiga setelah hari terpendek. Hari raya ini juga dikenal sebagai 春節 Chun1jie2 (Festival Musim Semi), 農曆新年 Nong2li4 Xin1nián (Tahun Baru), atau 過年 Guo4nián.

Imlek dirayakan di seluruh dunia, termasuk di Pecinan di berbagai negara, dan merupakan hari raya terpenting bagi bangsa Tionghoa, dan banyak bangsa Asia Timur seperti bangsa Korea dan Vietnam (Tết) yang memiliki hari raya yang jatuh pada hari yang sama. Sekitar masa tahun baru orang-orang memberi selamat satu sama lain dengan kalimat: Aksara Tionghoa Sederhana: 恭喜发财 - Aksara Tionghoa Tradisional: 恭喜發財 = "selamat dan semoga banyak rejeki", dibaca: "Gōngxǐ fācái" (bahasa Mandarin), "Kung hei fat choi" (bahasa Kantonis), "Kiong hi huat cai" (bahasa Hokkien).

Di Indonesia, selama 1965-1998 perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Alm. Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Imlek.

Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000 ketika mantan Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967. Kemudian Megawati Soekarnoputri menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2002 tertanggal 9 April 2002 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional. Mulai 2003, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional.

Bagi etnis Tionghoa adalah suatu keharusan untuk melaksanakan pemujaan kepada leluhur, seperti, dalam upacara kematian, memelihara meja abu atau lingwei (lembar papan kayu bertuliskan nama almarhum leluhur), bersembahyang leluhur pada hari Ceng Beng (hari khusus untuk berziarah dan membersihkan kuburan leluhur) dan Hari Raya Imlek.

Oleh sebab itu, pada Hari Raya Imlek anggota keluarga akan mengunjungi rumah anggota keluarga yang memelihara lingwei (meja abu) leluhur untuk bersembahyang. Atau mengunjungi rumah abu tempat penitipan lingwei leluhur untuk bersembahyang.


Di Surabaya terdapat banyak Rumah Abu tempat penitipan abu leluhur yang dikremasi atau lingwei dari leluhur yang sudah dimakamkan. Pemujaan terhadap leluhur merupakan salah satu bagian penting dari kebudayaan etnis Tionghoa. Banyak etnis Tionghoa yang percaya bahwa alam semesta adalah Chi (energi).

Ketika manusia meninggal dunia maka jasadnya turun ke bumi, sedangkan rohnya hidup terus di langit sebagai Chi. Hal ini memungkinkan orang yang masih hidup untuk berhubungan dengan leluhur mereka yang sudah meninggal dunia melalui pemujaan, ritual, dan upacara.


Angpao (Hanzi: 紅包, hanyu pinyin: hong bao) adalah bingkisan dalam amplop merah yang biasanya berisikan sejumlah uang sebagai hadiah menyambut tahun baru Imlek.

Sejak lama, warna merah melambangkan kebaikan dan kesejahteraan di dalam kebudayaan Tionghoa. Warna merah menunjukkan kegembiraan, semangat yang pada akhirnya akan membawa nasib baik.

Angpao sendiri adalah dialek Hokkian, arti harfiahnya adalah bungkusan/amplop merah. Namun angpao sebenarnya bukan hanya monopoli perayaan tahun baru Imlek semata karena angpao melambangkan kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik, sehingga angpao juga ada di dalam beberapa perhelatan penting seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru dan lain-lain yang bersifat suka cita.

Angpao pada tahun baru Imlek mempunyai istilah khusus yaitu "Ya Sui", yang artinya hadiah yang diberikan untuk anak-anak berkaitan dengan pertambahan umur/pergantian tahun. Di zaman dulu, hadiah ini biasanya berupa manisan, bonbon dan makanan. Untuk selanjutnya, karena perkembangan zaman, orang tua merasa lebih mudah memberikan uang dan membiarkan anak-anak memutuskan hadiah apa yang akan mereka beli. Tradisi memberikan uang sebagai hadiah Ya Sui ini muncul sekitar zaman Ming dan Qing. Dalam satu literatur mengenai Ya Sui Qian dituliskan bahwa anak-anak menggunakan uang untuk membeli petasan, manisan. Tindakan ini juga meningkatkan peredaran uang dan perputaran roda ekonomi di Tiongkok di zaman tersebut.

Uang kertas pertama kali digunakan di Tiongkok pada zaman Dinasti Song, namun baru benar-benar resmi digunakan secara luas di zaman Dinasti Ming. Walaupun telah ada uang kertas, namun karena uang kertas nominalnya biasanya sangat besar sehingga jarang digunakan sebagai hadiah Ya Sui kepada anak-anak.

Di zaman dulu, karena nominal terkecil uang yang beredar di Tiongkok adalah keping perunggu (wen atau tongbao). Keping perunggu ini biasanya berlubang segi empat di tengahnya. Bagian tengah ini diikatkan menjadi untaian uang dengan tali merah. Keluarga kaya biasanya mengikatkan 100 keping perunggu buat Ya Sui orang tua mereka dengan harapan mereka akan berumur panjang.

Jadi, dari sini dapat kita ketahui bahwa bungkusan kertas merah (angpao) yang berisikan uang belum populer di zaman dulu.


Saat ini masyarakat keturunan Tionghoa merayakan Hari Raya Imlek. Imlek adalah hari raya tahun baru berdasarkan penanggalan Imlek yang dirayakan setiap tanggal 1 bulan pertama kalender Imlek. Maka perayaan Imlek disebut Sin Cia (tahun baru).

Kalender Imlek adalah penanggalan yang menganut perhitungan berdasarkan peredaran bulan (lunar calendar). Tidak seperti kalender masehi (kalender Gregorian) yang berdasarkan peredaran matahari (solar calendar)

Perayaan Imlek juga disebut Chun Cie (pesta musim semi). Hal itu erat kaitannya dengan keadaan musim di Tiongkok, di mana penduduk mengalami perubahan dari musim dingin yang suram dan dingin menjadi musim semi yang cerah dan sejuk, serta penuh dengan kehidupan baru dari flora dan fauna. Maka kedatangan musim semi sangat disyukuri dan dirasakan patut dirayakan dengan penuh sukacita.

Pada Hari Raya Imlek, wihara dan kelenteng penuh sesak oleh orang-orang yang datang untuk sembahyang. Oleh sebab itu, banyak orang yang bukan etnis Tionghoa dan bukan beragama Buddha mengira Imlek adalah hari raya agama Buddha sebab wihara adalah tempat beribadat umat Buddha.

Imlek bukan hari raya agama Buddha. Hari raya agama Buddha adalah Tri Suci Waisak yang memperingati tiga peristiwa penting, yaitu hari lahir Pangeran Sidharta Gautama, hari Pangeran Sidharta Gautama menjadi Buddha dengan dicapainya penerangan sempurna, dan hari wafatnya Sang Buddha dan masuk Pari Nirwana.

Imlek juga bukan hari raya agama Konghucu. Hari raya agama Konghucu adalah hari lahir Nabi Konghucu, hari wafatnya Nabi Konghucu dan Hari Genta Rohani (Hari Nabi Konghucu meninggalkan jabatan pemerintah dan mengembara ke dalam dunia spiritual).

Hari Raya Imlek adalah pesta rakyat yang paling utama dalam almanak Tionghoa, yang dirayakan dari tanggal satu bulan satu Imlek sampai dengan tanggal 15 bulan satu Imlek (Cap Go Me), selama 15 hari.

Etnis Tionghoa merayakan Imlek di wihara dan kelenteng bukan hanya menyembah Buddha, tetapi juga untuk menyembah dewa-dewa dan orang suci untuk menyatakan rasa syukur, berterima kasih, serta memohon perlindungan dan kebaikan bagi keluarganya di tahun-tahun yang akan datang.

Sejak ribuan tahun lalu, di negeri Tiongkok banyak orang sekaligus menganut tiga agama, Buddha, Tao, dan Konghucu, sehingga dapat disebut sebagai agama Sam Kao atau Tri Dharma. Ciri agama orang Tionghoa sampai sekarang masih banyak yang bercorak agama majemuk. Dalam hal kepercayaan, orang Tionghoa umumnya tidak mutlak percaya pada satu agama, melainkan mengambil unsur-unsur tertentu dari berbagai agama masing-masing. Banyak etnis Tionghoa di Indonesia yang juga menyembah dewa-dewa majemuk.

Prof Kong Yuanzhi, Guru Besar Bahasa dan Kebudayaan Indonesia, Fakultas Studi Ketimuran (Oriental Studies), Universitas Peking, dalam bukunya Silang Budaya Tiongkok Indonesia, menyatakan, di Jakarta selama 1650 - 1975, berturut-turut telah dibangun 72 wihara dan kelenteng. Dewa-dewa dan orang suci yang dipajang di dalam 72 wihara dan kelenteng itu seluruhnya berjumlah 115 macam.

Jadi, di wihara atau kelenteng tidak hanya ada patung Buddha, tetapi juga banyak patung lainnya. Antara lain Kwan Im, Kwan Kong, Konghucu, Toa Pekong, Dewi Langit, Dewi Samudra, Dewa Tanah, dan Delapan Dewa.

Sebagai contoh, di Wihara Boen Bio (Kelenteng BOEN TJHIANG SOE) yang dibangun sekitar 1906 di Jalan Kapasan Dalam, Surabaya, dipajang patung-patung: Bodhisatwa Kwan Im, Bodhisatwa Ksitigarbha, Zhao Gongming, Kwan Kong, Dewa Tanah, Dewi Tian Hou, dan lain-lain.

Setara dengan Thanksgiving Day

Perayaan Imlek mempunyai makna pengucapan syukur atas berkat dan kelimpahan yang sudah diterima pada tahun yang baru lalu dan permohonan berkat dan pertolongan baik dari Thian (Tuhan), dewa-dewa, maupun leluhur pada tahun yang akan datang.


Di Amerika Serikat diselenggarakan pesta rakyat "Thanksgiving Day" yang dirayakan pada hari Kamis kedua bulan November. "Thanksgiving Day" bermula dari tradisi pesta panen masyarakat pertanian yang sudah dirayakan sejak masa kejayaan Yunani dan Romawi. "Thanksgiving" dirayakan sebagai tanda terima kasih pada Tuhan atas keberhasilan panen pada musim itu.

Di Amerika Serikat sejak 1863, "Thanksgiving Day" ditetapkan sebagai Hari Raya Nasional. "Thanksgiving Day" menjadi pesta rakyat yang tidak terkait dengan suatu agama, sehingga segenap warga negara Amerika Serikat merayakannya dengan sepenuh hati.

Seperti halnya "Thanksgiving Day" Imlek juga bukan hari raya keagamaan. Imlek adalah pesta rakyat yang dirayakan secara tradisional oleh etnis Tionghoa dari segala macam agama di seluruh dunia. Dan mereka merayakannya dengan penuh suka cita dan mengucap syukur sesuai dengan ajaran agama masing-masing.

Gong Xi Fa Cai - Xin Chun Kuai Le
Wan Shi Ru Yi

15 komentar:

  1. pengen nonton imlek....
    Gong Xi Fa Cai..

    BalasHapus
  2. kemaren udah dapet kue jenang dodol cino dari klient

    BalasHapus
  3. Bagaimana dengan perayaan Imlek di Singapura ? 2 kata : Meriah dan Spektakuler !!! Singapura merayakan Tahun Baru Macan ini dengan berbagai festival budaya-nya yang unik, pertunjukan seni yang memukau, kuliner yang menggoda selera, dan juga dekorasi serta pesta kembang api yang fantastis ! Siapkan kamera kamu untuk mengabadikan kemeriahan ini !! Cek www.visitsingapore.com dan lihat videonya di http://bit.ly/ahLL7g

    BalasHapus
  4. Iya betul Saya kelahiran Pontianak paham betul dengan acara tahunan ini. dan memang ini bukan hari agama melainkan tahun baru China.

    BalasHapus
  5. Dengan segala hormat.Mohon tulisan anda dikonsultasikan ke rohaniawan Khonghucu setempat.
    Ada 2ralat dari saya pribadi.
    1. Penangalan yg selama ini diucapkan imlek sebenarnya sudah terlanjur salah. Sebelum jaman soeharto,penanggalan china tersebut khongculik atau imyanglik.sebab pengambilanya di sesuaikan dengan perputran bulan terhadap bumi,dan bumibulan terhadap matahari. Sebagai bukti,penanggalan china sesuai dengan naikturun pasang air laut. Sedangkan terhadap matahari,penanggalan sesuai dengan pengaturan 4musim. Pengucapan penanggalan khongculik disebut imlek merupakan kesalahan turun temurun dan bersifat nasional,sangat susah untuk membetulkan.
    2. "Imlek bagi agama khonghucu merupakan hari raya agama,dan umat khonghucu beribadah sesuai dengan spirit".
    Ibadah umat khonghucu dibagi menjadi tiga.kepada Tuhan,alam,dan leluhur.tahun baru china yang jatuh pada bulan 1 tgl 1 tersebut merupakan ibadah kepada Tuhan.masih bnyk ibadah kepada Tuhan,dan itu merupakan hari raya bagi umat khonghucu.
    Sempat pada suatu jaman dinasti,tahun baru cina dijatuhkan pada hari raya tangcik.akan tetapi oleh nabi kongzi disabdakan untuk kembali ke penanggalan dinasti yang awal,yaitu saat bulan 1 tanggal 1.Semoga ini bisa menjadi awal untuk diskusi dan persahabatan kita sebagai makhluk yang selalu belajar.saya sendiri masih bnyk kekurangan.
    Sancai

    BalasHapus
  6. Saya ingin meluruskan bbrp hal yg berkaitan dg agama
    Khonghucu.
    Laku bakti, apalagi Sembahyang, jelas bukan sekedar
    Kebudayaan, di dlmnya ada makna2 agamis bagi umat
    Khonghucu.

    Seperti yg anda katakan, Imlek memang bukan hari raya
    keagamaan umat Buddha. Imlek adalah salah satu bagian dr rangkaian ritual, ibadah, sembahyang kepada Tian
    YME,Leluhur dan Sin Beng/SHEN MING/Rokh suci bagi umat agama Khonghucu, yg berlangsung mulai tgl 30/12 - 15/1 Imlek/Kongzi-li, maka jelas sekali kalau perayaan tahun baru Imlek adalah perayaan keagamaan bagi umat agama Khonghucu.Dan memang tidak semestinya/salah kaprah kalau umat agama Buddha ikut2an melakukan perayaan keagamaan yg bukan berasal dari ajaran agamanya ini, dengan bersembahyang ke kelenteng2 atau TITD2.

    Th 1 Imlek/Khongcu-lik ditetapkan oleh raja Han Wu DI, dari dinasti Han (206 s.M - 220 M), dg mengambil th kelahiran nabi Khongcu/Kongzi (551 s.M) utk menghormati, mengenang jasa Nabi Kongzi yg menganjurkan utk dipakainya kembali penanggalan dinasti He/Xia (abad 23 s.M).

    Sebutan penanggalan Imlek sendiri sbnrnya salah kaprah juga, yg lebih cocok diebut sebagai He-Lik/Xia-Li (krn dinasti tsb yg pertama kali memakainya) atau yg paling tepat disebut Kongzi-Li/Khongcu-lik (krn Nabi Khongcu yg menganjurkan utk dipakai kembali penanggalan ini, disamping th 1 yg dipakai adalah th kelahiran Nabi Kongzi).

    Penanggalan ini tidak hanya berdasar dari peredaran bulan mengelilingi bumi, tapi juga disesuaikan dg peredaran bumi mengeliling matahari, sehingga dapat diketahui kapan saat pasang surut air laut, kapan keempat musim berganti, sehingga pedoman ini sangat cocok bagi petani dan nelayan yg saat itu (jaman Nabi Kongzi) memang menjadi mata pencaharian sebagian besar rakyat Tiongkok.

    Ajaran Nabi Khongcu yg telah berlangsung selama ribuan th, telah mengakar dalam pola pikir, menjadi pedoman hidup sebagian besar org2 Tionghoa (kalau tidak bisa dikatakan semua org2 Tionghoa). Maka tidak heran akhirnya ajaran Nabi Khongcu ini menjadi budaya bagi masyarakat Tionghoa, namun jangan kemudian diartikan bahwa perayaan keagamaan, ajaran2 Nabi ini hanyalah kebudayaan, tradisi, dsb, karena ini seperti kacang yg lupa kulitnya, org yg lupa/melupakan asal usulnya.

    Org boleh saja menggunakan ajaran2 Nabi Khongcu sebagai
    pedoman hidup tanpa harus mengimani agama Khonghucu,
    namun hendaknya tetap sportif mengakui bahwa apa yg
    diajarkan Nabi Khongcu mengandung nafas2 Imani serta
    memiliki nilai2 agamis.

    BalasHapus
  7. Saya ingin meluruskan bbrp hal yg berkaitan dg agama
    Khonghucu.
    Laku bakti, apalagi Sembahyang, jelas bukan sekedar
    Kebudayaan, di dlmnya ada makna2 agamis bagi umat
    Khonghucu.
    Seperti yg anda katakan, Imlek memang bukan hari raya
    keagamaan umat Buddha. Imlek adalah salah satu bagian dr rangkaian ritual, ibadah, sembahyang kepada Tian
    YME,Leluhur dan Sin Beng/SHEN MING/Rokh suci bagi umat agama Khonghucu, yg berlangsung mulai tgl 30/12 - 15/1 Imlek/Kongzi-li, maka jelas sekali kalau perayaan tahun baru Imlek adalah perayaan keagamaan bagi umat agama Khonghucu.Dan memang tidak semestinya/salah kaprah kalau umat agama Buddha ikut2an melakukan perayaan keagamaan yg bukan berasal dari ajaran agamanya ini, dengan bersembahyang ke kelenteng2 atau TITD2.
    Th 1 Imlek/Khongcu-lik ditetapkan oleh raja Han Wu DI, dari dinasti Han (206 s.M - 220 M), dg mengambil th kelahiran nabi Khongcu/Kongzi (551 s.M) utk menghormati, mengenang jasa Nabi Kongzi yg menganjurkan utk dipakainya kembali penanggalan dinasti He/Xia (abad 23 s.M).
    Sebutan penanggalan Imlek sendiri sbnrnya salah kaprah juga, yg lebih cocok diebut sebagai He-Lik/Xia-Li (krn dinasti tsb yg pertama kali memakainya) atau yg paling tepat disebut Kongzi-Li/Khongcu-lik (krn Nabi Khongcu yg menganjurkan utk dipakai kembali penanggalan ini, disamping th 1 yg dipakai adalah th kelahiran Nabi Kongzi).
    Penanggalan ini tidak hanya berdasar dari peredaran bulan mengelilingi bumi, tapi juga disesuaikan dg peredaran bumi mengeliling matahari, sehingga dapat diketahui kapan saat pasang surut air laut, kapan keempat musim berganti, sehingga pedoman ini sangat cocok bagi petani dan nelayan yg saat itu (jaman Nabi Kongzi) memang menjadi mata pencaharian sebagian besar rakyat Tiongkok.
    Ajaran Nabi Khongcu yg telah berlangsung selama ribuan th, telah mengakar dalam pola pikir, menjadi pedoman hidup sebagian besar org2 Tionghoa (kalau tidak bisa dikatakan semua org2 Tionghoa). Maka tidak heran akhirnya ajaran Nabi Khongcu ini menjadi budaya bagi masyarakat Tionghoa, namun jangan kemudian diartikan bahwa perayaan keagamaan, ajaran2 Nabi ini hanyalah kebudayaan, tradisi, dsb, karena ini seperti kacang yg lupa kulitnya, org yg lupa/melupakan asal usulnya.
    Org boleh saja menggunakan ajaran2 Nabi Khongcu sebagai pedoman hidup tanpa harus mengimani agama Khonghucu, namun hendaknya tetap sportif mengakui bahwa apa yg diajarkan Nabi Khongcu mengandung nafas2 Imani serta memiliki nilai2 agamis.

    BalasHapus
  8. SAYA GA NGERTI YANG ANDA TULIS ?? jangan membelokan sejarah ,sudah jelas2 diambil dari Tahun kelahiran Nabi KHONG ZI 551 SM masih saja diperdebatkan bukan Hari raya Agama KHONG HUCU !!! BERPIKIRLAH SECARA BIJAKSANA JANGAN PICIK MEMBELOKAN SEJARAH ................ "SELAMAT TAHUN BARU KHONG ZI LI 2562"

    BalasHapus
  9. Yang nulis bego banget.
    Di mana-mana itu, di seluruh dunia, perayaan Imlek di lakukan di klenteng-klenteng. Semua orang Tionghoa merayakannya di Klenteng, pake hio.
    Masa perayaan Imlek di rayakan di Gereja atau di Mesjid ???
    Orang Gereja / Islam-khan nggak semuanya orang Tionghoa !
    Katanya Imlek perayaan buat orang Tionghoa, lalu yang non-Tionghoa, apa juga harus merayakannya di Gereja atau Mesjid ?? Agak aneh juga sih, non-Tionghoa, tapi turut merayakan Imlek di Gereja atau Mesjid !!
    Rada nggak nyambung nih logikanya !

    Bilang aja loe orang Tionghoa tapi non-Khonghucu. Eloe orang Tionghoa lagi bingung, karena ngrasa nggak punya identitas Tionghoa.

    Mungkin cuma ada di Indonesia aja kali. Hari raya Imlek agama Konghucu, dirayakan secara massal di Gereja-Gereja Kristen, dan Mesjid [ada nggak ya ?].

    BalasHapus
  10. Di China sendiri perayaan imlek disebut Festival Musim Semi,yg bila berdasarkan logika agak aneh kita di sini yg tak mengenal musim semi ikut merayakannya;tapi yg penting adalah spiritnya kita bersatu turut merayakan apapun agamanya,janganlah diklaim sebagai milik satu agama saja;bila diklaim sebagai milik khonghucu gimana dg umat taoisme/kelenteng?Meskipun mungkin hal tsb dinyatakan dalam kitab khonghucu,biarkanlah jadi milik universal spt tahun baru 1 januari,yg mau merayakan secara agamis monggo,yg mau merayakan secara sekuler ya monggo

    BalasHapus
  11. Analisis hubungan antar sub-etnis Tionghoa di Indonesia.

    Terdapat dua sub-etnis Tionghoa yang saling bertolak-belakang, dan tidak bisa hidup saling berdampinga, yaitu:
    1. Sub-etnis Kelompok dari Cina Sumatera/Cina Sulawesi.
    2. Sub-etnis kelompk dari Cina Kalimantan/Cina Jawa/ Cina Bali.


    Tulisan dibawah ini berdasarkan data-data fakta sejarah di Indonesia:

    Hipotesis:
    Orang Cina Pontianak nggak bakalan bisa joint-bisnis sama Cina Medan. Karena pasti ribut. Orang Cina Bandung juga tidak bakal jadi rekanan bisnis Cina Medan, karena pasti berantem.

    Variabel:
    Cina Berengsek---> Cina Sumatera dan Cina Sulawesi: Cina Medan = Cina Palembang = Cina Makasar = Cina Pekanbaru = dll.

    Cina baik ---> Cina Kalimantan, Cina jawa, Cina Bali: Cina Pontianak = Cina Bogor = Cina Sukabumi = Cina Bandung = Cina Cirebon = Cina Malang = Cina Magelang = Cina Surabaya = Cina Semarang = dll.

    Bisnis:
    Prinsip Cina Brengsek [Cina Medan = Cina Palembang = Cina Makasar = Cina Pekanbaru dll] mengenai bisnis:
    Misal, joint usaha sama Cina Pontianak, dgn modal masing-masing 50 %.
    Kalau usahanya Rugi, orang Cina Medan pasti kabur melarikan diri.
    Kalau usahanya untung, orang Cina Medan minta labanya sebesar 75 %.

    Cina Sumatera, dan Cina Sulawesi kalau pinjam uang, lalu di tagih pasti marah-marah. Parahnya lagi, berani bayar orang lain buat membunuh si pemberi pinjaman.

    Liat aja semua kasus kriminal pembunuhan pelaku dan atau korbannya pasti Cina Medan. Coba baca-baca koran deh, kalo ada kasus kriminal selalu Cina Medan / Cina Palembang / Cina Makasar / Cina Pekanbaru yang selalu terlibat, entah jadi pelaku atau jadi korban ataupun kedua-duanya.

    Contoh:
    Kasus pembunuhan Bos PT Asaba, Budhiyanto Angsono oleh Gunawan Santosa. Dua-duanya orang Cina Medan.

    Kasus pembunuhan Bos Judi dan Pelacuran, Nyo Beng Seng, otaknya oleh Hong lie. Dua-duanya orang Cina Medan.

    Kasus penculikan tebusan 4 40.000, penculikan Nicholas atau Niko, 4 tahun, anak ketiga Adelin Sujadi alias Han Jin. Han Jin, 39 tahun, Pengusaha anak Nyo Beng Seng, yang tewas di tangan pembunuh bayaran. Korban dan pelaku orang Cina Medan.

    Kasus pembunuhan sekeluarga di Medan tahun 2010, satu mobil sekeluarga tewas di tembak senjata otomatis M-16. Pelaku dan korbanya orang Cina Medan

    Kasus Pembunuhan kedua orang tua dari Profesor Nelson Tansu [Profesor Teknik Elektro termuda di Lehigh University, USA, dan pernah juara Olimpiade Fisika]. Pelaku dan korbanya orang Cina Medan.

    Kasus Germo Pelacuran Planet Bali, Hartono. Cina Palembang.

    Kasus korupsi Pajak Rp. 6.1 triliun Asia Agri, milik konglomerat Sukanto Tanoto yg kabur ke Singapura. Cina Medan

    Kemudian liat juga kasus-kasus korupsi bank BLBI, pelakunya pasti orang Cina Sumatera dan Cina Sulawesi.

    Dan masih banyak lagi kasus-kasus kriminal mulai dari sengketa bisnis, perjudian, pelacuran, narkoba, dan lain-lain, semuanya selalu melibatkan orang Cina Sumatera dan atau Cina Sulawesi.


    Geografi tempat tinggal:
    Cina Medan di Jakarta kebanyakan tinggal di daerah Pluit [95 %], Muara Karang [95 %], Jelambar [80 %].
    Coba liat mana ada Cina Medan yg tinggal di Pademaangan-Sunter (daerah tinggal orang Cina Pontianak], kalaupun ada jumlahnya sedikit.

    Dari sini saja dapat disimpulkan adanya ketidak-sesuaian untuk hidup bersama di antara Cina Medan dgn Cina Pontianak.

    Apa ada pernikahan di antara Cina Sumatera dengan Cina Jawa ? kalaupun ada pasti tidak langgeng dan harmonis karena perbedaan perilaku dan budaya.

    Bersambung dibawah.

    BalasHapus
  12. Sambungan dari di atas:

    Kesimpulan:
    Cina Sumatera/Cina Sulawesi tidak bisa hidup berdampingan dengan Cina Kalimantan/Cina Jawa/ Cina Bali.

    Untuk rekanan bisnis, sebaiknya tidak memilih kongsi dengan Cina Medan dan atau Cina Sulawesi. Resikonya terlalu besar, bahkan bisa timbul penculikan, pembunuhan, dan korban jiwa yang tidak perlu.

    Cari aman saja, jangan mencari masalah, hindari bergaul dan jangan sampai terlalu akrab sama Cina Medan dan atau Cina Sulawesi. Kalau tidak perlu, jangan sampai berhubungan.

    Secara umum: Cina Medan dan Cina Sulawesi memiliki perilaku keras, emosional, dan temperamental, licik, suka mengambil jalan pintas, mau menang sendiri, suka ingkar janji dan menipu, dan tidak suka kalah,

    Hal-hal di atas dapat dibuktikan sendiri kebenarannya oleh siapapun sesuai dengan fakta dan data-data sejarah ataupun data di masa yang akan datang yg ada di media cetak koran dan televisi.

    Buktikan sendiri !

    BalasHapus
  13. Saran buat Pak LuXSmaN Kumara,

    Tulisan Pak Lux ditambah beberapa komentar rekan lain, saya yakin dapat menambah wawasan pembaca. Tapi sangat disesalkan ada komentar bodoh tendensius yang tidak ada relevansi dengan tulisan Pak Lux. Saran kami, hapus saja komentar itu.

    Thx.

    BalasHapus