Senin, 07 Februari 2011

Plagiat itu Diperlukan

Banyak orang menganggap meniru itu merupakan bakat rendahan (cuma meniru!!) dan tidak mempunyai nilai pembelajaran. Tidak selalu demikian, Dr. Susan Blackmore psikolog dari Universitas  Plymouth di Inggris menjelaskan bahwa meniru bukan saja merupakan cara belajar yang efektif dan to the point, tetapi juga bahwa diperlukan kecanggihan untuk dapat meniru. Meniru adalah semacam benih (gen) kreatifitas dan perkembangan sebagaimana batu yang merupakan bahan dari macam-macam pahatan. Guru menunjukkan dan murid menirukan. Meskipun guru berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti panutan spiritual tetapi sejak SD saya diajarkan bahwa guru berasal dari singkatan digugu (dipercaya-bahasa Jawa) dan ditiru. Tirukan guru bagaimana cara menulis,  membaca dan menghitung yang benar. Tirukan ustad anda melafalkan huruf hijaiyah yang fasih, ruku dan sujud yang tumakninah. Itulah modal awal untuk menjadi seorang anda yang professional dan da’i yang kondang seperti sekarang ini.

Saya tidak suka melihat teman-teman saya yang memencong-mencongkan bibir dan menekuk lidah meniru cara orang barat berbahasa Inggris. Makanan kita singkong mereka makan keju. Bibir dan lidah kita beda takkan bisa persis meniru pengucapan mereka. Tidak nasionalis meniru-niru logat orang asing. Mereka teryata sekarang ada yang menjadi konsultan atau bekerja di perusahaan asing dengan gaji selangit. Saya mungkin salah. Menirukan logat lawan bicara kita ternyata membuat kita memahami dan dipahami oleh mereka. Dalam penelitian bersama Unversitas Manchester Inggris dan Unv. Radboud Belanda, sejumlah relawan diminta mendengarkan kalimat bahasa Belanda yang dibaca dengan aksen yang dibuat-buat sehingga terdengar sangat asing. Beberapa relawan diminta mengulangi kalimat-kalimat itu dengan aksen yang sama. Yang lain diminta mengulangi kalimat itu tanpa meniru aksennya, sementara kelompok ketiga diminta menuliskan apa yang mereka dengar. Kemudian mereka diminta untuk mendengarkan kalimat-kalimat lain dengan aksen yang asing itu. Para relawan yang yang telah mengulangi kalimat pertama sambil menirukan aksennya, ternyata jauh lebih memahami kalimat-kalimat berikutnya dibanding relawan yang lain. 

Menurut Dr. Patti Adank perancang penelitian itu, jika orang berbicara satu sama lain mereka cenderung saling menyesuaikan percakapan mereka satu dengan yang lain. Ada kecenderungan alami untuk melunakkan suara dan merubahnya dengan halus menjadi seperti lawan bicaranya. Otak anda secara bijak dan tidak kentara menggeser suara anda hingga terdengar lebih seperti mereka. Ketika berbicara dengan seseorang yang aksennya sangat kuat, bila kita menirukan logat mereka maka kita akan mengerti dengan lebih baik. Ia juga mengatakan bahwa ada beberapa ciri kepribadian , seperti empati misalnya, yang memberikan kemampuan dan kemudahan untuk meniru orang yang dia ajak berbicara.

Steve Mc Claren  ex manager tim sepak bola Inggris yang kemudian memimpin club FC. Twente dari Belanda suatu kali mengadakan konferensi pers dalam bahasa inggris dengan menggunakan logat Belanda. Orang banyak menganggapnya konyol, tetapi menurut hasil penelitian ini, bukan saja menjadikan dia mudah difahami oleh klubnya  tetapi ia faham kalau anak buahnya berbahasa Inggris dengan logat Belanda yang medok.

Jadi tirukan logat Batak atau Ambon bila berbicara bahasa Indonesia dengan mereka. Dan logat Singapura atau India yang khas itu kalau berbahasa Inggris dengan orang sana. Dijamin komunikasi lancar. Tapi hati-hati jangan sampai mereka merasa terhina. Anda akan mampu dan mudah melakukannya bila anda orang yang peduli dan suka memahami orang lain 

 

Posted via email from luxsman

1 komentar:

  1. plagiat itu apa om?apa sebatas meniru?

    BalasHapus