Sabtu, 28 Maret 2009

Situ GintuNG



Jebolnya tanggul Situ Gintung sekitar jam 2 pagi, benar-benar menjadi musibah bagi perkampungan di bawahnya. Tragedi ini merupakan bukti ketidakharmonisan antara lingkungan dan manusianya. Manusia tidak pernah bijak dalam mengelola lingkungannya, terkesan rakus dan tamak.

Jika kita melihat kawasan Situ Gintung dari Google Earth, tampak sekali kepadatan bangunan yang mengelilinginya. Situ Gintung, yang merupakan salah satu situ penampung air, lama kelamaan akan tertekan oleh pembangunan disekelilingnya yang tidak terkendali, sehingga mengalami pendangkalan dan penyempitan yang berakibat tidak bisa lagi menampung air jika terjadi hujan lebat. Air yang tidak tertampung ini akan terus bergerak dan menjadi kekuatan yang sangat dinamis untuk bisa menjebol penahan-penahan yang ada disekelilingnya. Oleh karena itu sekuat apapun tanggul itu menahan, pada akhirnya akan jebol juga, tak kuasa menahan laju air yang mempunyai sifat dinamis. Dan celakanya, di sekitar tanggul yang letaknya di bawah Situ (seperti lembah), terdapat banyak bangunan pemukiman, yang dampaknya sudah kita lihat bersama di televisi.

Setiap musibah yang terjadi, pasti ada makna dibalik itu semua, kita diingatkan agar menjaga dan melestarikan lingkungan, karena di Indonesia ini banyak sekali daerah-daerah seperti Situ Gintung tersebut, hindari membuat bangunan di daerah yang mempunyai beda ketinggian seperti daerah tanggul Situ Gintung, hindari membuat bangunan di lereng-lereng bukit, hindari membuat bangunan di bawah jalur tegangan tinggi, jalur sempadan sungai, jalur sempadan laut, dan masih banyak lagi peraturan-peraturan membangun yang tentunya membutuhkan perhatian bersama semua kalangan. Pemerintah harus selalu mengecek dan mengawasi serta tegas dalam memberikan ijin pemanfaatan lahan, begitu pun warganya, harus ikut aktif memperhatikan keseimbangan lingkungannya.

Saya ikut perihatin, dan semoga yang terkena musibah diberikan kesabaran dan ketabahan.

34 komentar:

  1. Oleh karena itu, masing-masing dr kita seharusnya mencegah.
    :)

    BalasHapus
  2. kawasan tersebut sebaiknya jangan dijadikan pemukiman. Lingkungan hidup di kawasan itu harus dipelihara, penghijauan kembali harus dilakukan. Reboisasi kawasan mutlak diperlukan, selain membangun kembali tanggul yang jebol. Tragedi ini jangan terulang lagi.

    BalasHapus
  3. mari mulai dari diri kita utk kembali bersahabat dengan lingkungan sekitar kita.

    BalasHapus
  4. prihatin banget. ya gitu itu alam sekarang dipolitisir juga, mementingkan kepentingan pihak tertentu

    BalasHapus
  5. yang semakin bikin meradang adalah dua penguasa pemerintah lokal saling lepas tangan dari Banten itu harus persoalan pusat dari jakarta "itukan buakan wilayah ai" Kopet kabeh!!

    dan yang bikn satir lagi beberapa kilo dari tempat itu ada perhelatan panasonic award artis berjibun mengumbar senyum, ketika seorang ibu2 meraung tangis melihat bapaknya mati terlibas air bah kecil itu!

    HIDUPLAH INDONESIA RAYA!!!

    BalasHapus
  6. saya heran, danau alias waduk tsb kok ditaruh ditengah2 pemukiman warga padat penduduk ya?
    dimana perencanaannya? pemerintahe cen pekok.. (doh)

    BalasHapus
  7. hmmm,,, tragedi,, mudah-mudahan mereka yang jadi korban kuat ya,,

    BalasHapus
  8. Turut berduka atas musibah yang menimpa sodara-sodara kita yang terkene musibah ini... Semoga mereka di berikan kesabaran dan tabah menghadapi musibah ini..

    BalasHapus
  9. kalo mo dicari akar masalahnya, semuanya udah terlalu kompleks. Turut berduka cita atas peristiwa situ gintung... makasih udah mampir & jadi follower blog sayah ya

    BalasHapus
  10. turut berduka cita bagi korban musibah tersebut. semoga musibah-musibah seperti ini tidak terjadi lagi dan pemerintah bisa mencegah lebih dini. kalau bisanya cuma berkelit jadi males nyoblos nih.

    BalasHapus
  11. astagfirullah... negara ini kembali diuji. negara ini kembali di peringatkan. semoga mereka yang sedang berebut kursi terketuk hatinya untuk tidak menghambur2kan uang milyard'an sia2. semoga mereka yang meninggal dalam bencana di masukkan dalam golongan orang-orang yang mati syahid. serta kesabaran yang tiada tara bagi mereka yang ditinggalkan, amiiiin

    BalasHapus
  12. ,innalillahi......

    ,kok bisa gitu yah....

    ,moga aja gak terjadi lagi....

    BalasHapus
  13. turut berduka cita yg sedalam²nya :( ... makin hari alam makin sering murka

    BalasHapus
  14. jadi inget kejadian longsor di balikpapan
    nyokk lestarikan dan jaga bumi ya

    BalasHapus
  15. iya kalo sudah begini manusia biasanya baru sadar kalo sudah terlalu jauh merusak lingkungan

    BalasHapus
  16. Situ itu rubuh hancur
    Mungkin karena debit air tak terukur
    Mungkin tanah pondasi mendadak gembur
    Atau memang dinding penahan situ dibuat bak bubur
    Karena semen, koral, besi dikorup pelacur

    Tsunami mini terjadi di sini
    Ratusan-ribuan ratap tangis terjadi
    Lalu politisi berduyun-duyun bersimpati
    Bawa sembako tenda dengan logo partai ditempeli
    Dalam derita pun ada kampanye disisipi

    Berapa banyakkah tumbal diperlukan lagi
    Tuk meyakinkan diri
    Bahwa semua situ, jembatan, jalan di kanan-kiri
    Sebenarnya monumen mengerikan gembur lahan korupsi

    BalasHapus
  17. Kalo di Indonesia kejadian baru renovasi...
    Atau nunggu tumbal kali ya...?

    BalasHapus
  18. innalillahi wa inna ilaihi roji'un

    BalasHapus
  19. :(

    satulagi bencana datang :(

    BalasHapus
  20. :( :( :

    ikut berduka cita...

    Mari Kita Cintai,jaga dan lestarikan lingkungan kita !

    BalasHapus
  21. Tatkala jagad besar dan jagad kecil tak lagi harmonis...

    Maka kita akan menyaksikan bagaimana kemurkaan alam dimana manusia tak lagi punya daya apa2...

    BalasHapus
  22. semoga diberi ketabahan...amiennnnn

    BalasHapus
  23. Turut berduka atas musibah Situ Gintung ... pentesalan datangnya pasti belakangan ... kita harus bersahabat dengan alam

    BalasHapus
  24. Allah telah memberi peringatan lagi kepada kita saudara2ku....mari yg belum bertaubat segera bertaubat agar Allah tidak kembali murka.

    BalasHapus
  25. turut sedih..semoga baik2 saja yang terkena musibah :(

    BalasHapus
  26. baru nyadar kecerobohan kita sebagai manusia setelah suatu musibah terjadi dan menimpa...

    BalasHapus
  27. Manusia hanya bisa merencanakan, Kesempurnaan hanya milik-Nya,
    Hari esuk adalah misteri,

    BalasHapus
  28. Menurutku tak masalah orang tinggal dibalik tanggul selama gak mengubah struktur tanggul, digangsir misalnya.
    Pendangkalan aku rasa juga bukanlah penyebab jebolnya tanggul. Sesuai kaidah fisika, semakin dangkal suatu bendungan akan semakin volume air dan itu berarti semakin rendah tekanan air ke tanggul.
    Pertanyaannya : lantas kemana perginya luberan air yang gak tertampung ?
    Hal itulah yang sudah dipikirkan Belanda 80 thn silam. Dibuatlah sebuah sudetan [water drain] yang mengarah kekali Pesanggrahan, yang bertugas menjaga keseimbangan volume air.

    Bila sekarang tragedi itu harus terjadi ya perlu dicheck dulu, ah jangan jangan sudetannya sengaja didangkalkan buat tempat tinggal............

    BalasHapus
  29. cuma bisa ikut berbela sungkawa aja

    BalasHapus
  30. turut berduka cita. Semoga para korban diterima di sisi-Nya.

    BalasHapus
  31. bencana lagi semoga mereka para korbannya tabah

    BalasHapus
  32. bencana lagi semoga mereka para korbannya tabah

    BalasHapus
  33. turut berduka cita semoga pemerintah mengawasi waduk2 lainnya..

    (doh) mau kerja koq nunggu satu jebol dulu

    BalasHapus
  34. Sering aku melintasi suatu "jembatan" di daerah Gubeng. Pas aku perhatikan disitu tertulis : anno 1905.
    Hmmm, hebat euy, masih kokoh hingga sekarang.
    Sementara 2 hari kemarin, aku lihat di tv ada sekolah yang ambrol. Ironisnya padahal baru sebulan di rehab.

    Yah, itulah salah satu kelemahan bangsa kita. Kurang waspada, banyak bermain angka dan kadang menganggap suatu gejala sebagai hal yang biasa................ah, biasanya gak apa apa kog.

    BalasHapus