Senin, 20 April 2009

K.A.T.R.O.K

PADA mulanya adalah katrok. Setelah itu kutukupret, taksobek-sobek, dan kita puas, lalu tertawa terbahak-bahak. Dulu, dulu sekali, orang-orang Jawa yang menjaga kehormatan dengan pagar bahasa semacam "ajining dhiri seka lathi" tak akan berdekatan dengan pisuhan-pisuhan semacam itu. Mereka bisa saja misuh, tetapi kaum priayi di kampung saya, lebih memilih kata-kata yang lebih halus. Mereka akan bilang "atui" untuk mengganti "asui". Mereka akan memakai ungkapan "Tek", "Kom", "Prek", atau "Trembelane" agar tidak menyentuh kata lain semacam "Bajingan", "Tilembokne", "Logok", atau "Asu".

Ya, tinggal di kampung saya memang harus paham pasemon. Mesti mengerti eufimisme. Tahu unggah-ungguh, andha usuk, atau subasita bahasa. Ketidak mengertian pada sopan-santun, bahkan saat misuh, bisa dianggap tidak tata, tak mengerti Jawa. Karena itu, bahkan untuk melukai hati orang lain, seseorang harus memilih kata-kata yang sehalus mungkin.

Dengan pasemon, paling tidak menurut Goenawan Mohamad, makna tidak secara apriori hadir. "...Makna yang muncul itu pun tidak pernah final. Ada unsur permainan di sana, tetapi sekaligus ada unsur berjaga-jaga, untuk mengelak, dari terkaman perumusan yang mematikan... "

Dengan kata lain orang Jawa bisa tampil seakan-akan beradab, seakan-akan tata sekalipun berada dalam kemarahan luar biasa. Pengelakan itu pula yang melahirkan ungkapan-ungkapan "wong nakal" untuk menggantikan lonthe atau pelacur, "wong ra nggenah" atau "wong ra dalan" untuk menggantikan "bajingan", "bandit", atau orang-orang yang tidak hidup di jalan yang lurus: jalan yang disetujui oleh pranata sosial.

Pengelakan juga bisa dilakukan dengan menggunakan bahasa lain. Untuk mengganti ungkapan lonthe kere (pelacur miskin), orang-orang kampung saya memakai pisuhan berbahasa China, ji it sam sam. Saya pernah berurusan dengan ungkapan itu justru pada saat saya belum mengerti maknanya. Tetangga saya -perempuan cantik yang bekerja sebagai bar girl di Jakarta- setiap kali pulang kampung bersama laki-laki yang berganti-ganti, dipoyoki dengan kata-kata semacam itu. Sebagai anak kecil yang tak mengerti makna bahasa asing, saya pun ikut-ikutan meneriakkan yel-yel ji it sam sam berulang-ulang saat melintasi rumah tetangga malang itu.

Tahukah Anda apa makna ji it sam sam? Ji it itu dua satu. Dua satu itu dalam tradisi perjudian sama dengan dua puluh satu. Dalam buku tafsir mimpi, angka dua puluh satu itu digunakan untuk menjelaskan gambar pelacur. Adapun sam sam itu tiga tiga. Tiga tiga identik dengan tiga puluh tiga. Angka itu untuk memyimbolkan sosok seorang pengemis. Gabungan antara pelacur dan pengemis itulah yang menghasilkan sindiran yang dalam bahasa Jawa disebut sebagai lonthe kere.

Lalu apa yang bisa dipetik dalam peristiwa bahasa semacam ini? Saya mengira telah terjadi sebuah situasi yang memungkinkan orang Jawa melakukan tindakan yang disebut oleh Mochtar Pabottinggi sebagai kramanisasi. "Ia sudah terperangkap dalam imaji orang Jawa tentang politik di mana topeng (mask) punya peranan penting."

Topeng kita tahu adalah alat untuk melakukan penyamaran. Dengan penyamaran itu orang bisa mengelak dari berbagai ancaman aturan yang berlaku di dalam sebuah sistem sosial. Dengan penyamaran, orang juga bisa segera menyusup dengan lembut ke dalam kehalusan, ke dalam segala sesuatu yang oleh antropolog Clifford Geertz disebut sebagai "ethok-ethok".

Akan tetapi kita juga tahu zaman tak pernah berhenti di medan yang melulu halus. Zaman selalu menjinjing perubahan, membawa ideologi-ideologi termodern dan mengusung berbagai kejutan kebudayaan yang membuat segala sesuatu bisa tak berada di tempat atau fungsi semula.

Bahasa juga mengalami cara hidup yang semacam itu. ia bisa mengalami disposisi dan disfungsi. Ia tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia tercipta karena didorong oleh perubahan sosial yang tengah terjadi. Katrok, Anda tahu, tak akan pernah mengada atau menjadi bahasa, jika ia tidak direproduksi oleh televisi ke segala lini, ke segala penjuru. Ia juga tidak bisa menyusup dalam kehidupan khalayak jika tidak muncul dari Tukul Arwana, idola ndesa yang sedang digandrungi oleh publik. Bahasa -termasuk ungkapan kutukupret- tidak pernah bisa otonom. Ia tidak pernah berdiri sendiri dengan tegak atau jumawa.

Persoalannya kemudian, mengapa bahasa yang cenderung dianggap kasar, ndesa, telanjang atau cablaka itu muncul di tengah-tengah peradaban Jawa yang kian meredup? Saya menduga kemeredupan peradaban Jawa memungkinkan siapa pun melakukan pemberontakan terhadap berbagai aturan yang pernah memenjara ekspresi. Ketidakwibawaan itu pula yang justru memunculkan dekramanisasi terhadap bahasa dan kebudayaan Jawa.

Tentu saja para priayi Jawa tidak perlu sewot pada Tukul. Tukul hanyalah bagian kecil dari sistem besar yang tengah mempertanyakan pranata bahasa, sosial, dan bahkan kebudayaan Jawa. Tukul datang untuk me-ngatrok-kan, mengampungkan, dan kemudian mereposisi kebudayaan Anda. Jadi, Jika tetap tak percaya, taksobek-sobek (mata) Sampean.

26 komentar:

  1. Nuwun sewu badhe pinarak mriki.

    BalasHapus
  2. wah bahasannya tinggi ya ... (thinking)

    BalasHapus
  3. bahasamu.. saestu mboten mangertos kulo

    BalasHapus
  4. sama seperti saya mengumpat teman sepermainan

    ji sam sam sam

    23 33 artine

    *kethek mbambung :) *


    apik cak

    BalasHapus
  5. your kung fu is very good...!
    *mendadak merasa awam*

    BalasHapus
  6. bahasa sekarang bisa dirubah artunya..bingung juga... kadang bahasa jawa dan luar negeri..bisa nyangkut2 katanya..hee

    BalasHapus
  7. aku blogger anti misuh!!!

    BalasHapus
  8. Aku blogger anti misuh ... tapi nek kepepet ... sak KBS ... metu kabeh .... walah ... nuwon sewu ngih

    BalasHapus
  9. saya jawa tulem, mas luqman, hehehe .... tapi ketika bahasa jawa lantas menjadi alat utk melanggengkan sikap feodal dan mriyayeni, duh, jujur saja saya ndak rela, ndak rela, hehe .... orang jawa sejak jadul memang suka sekali bersembunyi di balik bahasa yang lembut, tapi repotnya perilakunya jauh dari kesantunan bahasanya. justru saya suka bahasanya tukul yang cablaka, jujur, dan apa adanya.

    BalasHapus
  10. sakjanipun kawulo tiyang sae, nanging menawi dipun atosi nggih kawulo genjot mustoko lan kawulo pithes paningalipun ngantos jengkar nyowonipun...

    BalasHapus
  11. tren tergantung yg buat tren
    kalo tren yg tercipta bukan hal baik
    hmmmm
    harus dibasmi tuh
    :)

    BalasHapus
  12. Tugas paper sosiologi anda mendapat nilai A
    bagus luar biasa

    BalasHapus
  13. Yang saya tahu, bahasa menentukan kelas seseorang.

    BalasHapus
  14. wah kok kaya orang lagi marah-marah nih...

    BalasHapus
  15. wolu pitu sama dengan edan ... bener gk??

    ha ga ga ga ga ....

    BalasHapus
  16. di sini orang misuh sudah seperti budaya
    bahkan anak kecilpun sudah pandai bermain kata itu

    BalasHapus
  17. kelak anak cucu kita tidak akan pernah tahu apa itu bahasa jawa. yang mereka kenal hanya pulau jawa. tanpa orang jawa yang mengerti bahasanya sendiri *mengenaskan*

    BalasHapus
  18. nggih meniko leres sedonten mboten wonten engkang lepat

    BalasHapus
  19. Kajian yang sangat mendalam.
    Saya musti belajar banyak...

    BalasHapus
  20. salam..........

    mas blognya katrok juga...........

    hee..

    BalasHapus
  21. wah kalau wong katrok banyak temannya

    BalasHapus
  22. lagi krungu iki, Lonte Kere....
    hahaha...
    kkosakata anyar kiye

    BalasHapus
  23. eh mas tolong saya kesasar.. hehehe

    salam kenal...

    BalasHapus
  24. woh, nek aku seneng misuh, ning nek jagong ro konco-kancaku dhewe. Nek ro wong liyan, anti misuh je ,,, hehehe

    BalasHapus